Sunday, October 9, 2011

Temanku

Temanku ini, sahabat kental waktu kuliah. Mungkin karena kami sama-sama dari kalimantan, kami lebih cepat akrab, kami juga sering jalan bareng dan ngerjain tugas bareng. Dia salah teman baikku waktu kuliah.
Temanku itu, menikah dengan teman KKN-nya waktu hampir selesai kuliah. Karena itu juga dan karena kesibukan mengerjakan tugas akhir kami agak jarang bertemu waktu kelulusan. Hingga kemudian dia kembali ke kotanya dan aku kembali ke kotaku setelah kuliah, kami jarang berkirim kabar.
Temanku ini, akhirnya kutemukan kembali seiring dengan maraknya Facebook. Kami sering berkomunikasi lewat fesbuk, dan kadang sms-an cuma untuk menjaga silaturahmi.
Temanku itu, dari status-status fesbuknya, terlihat sering dirundung gelisah. Karena aku peduli, sering aku tanyakan kenapa. Sempat dia inbox aku, dia bilang dia khawatir suaminya nikah lagi. Sebagai teman, aku berusaha menghibur dan menyemangatinya.
Temanku ini, status-status fesbuknya sering menjadi perhatianku, karena dia sering sekali update status. Aku mengikuti dari fase kegelisahannya, kecemburuannya, kemarahannya, hingga sekarang memasuki fase kepasrahannya.
Temanku ini, selalu menjawab tidak apa-apa ketika kutanya kabarnya, ketika kulihat statusnya, atau ketika aku sudah lama tidak mendengar kabarnya. Temanku, aku tidak tau pasti apa yang terjadi padamu, aku hanya bisa menerka-nerka. Aku hanya berharap kamu memang baik-baik saja. Jika ada yang bisa kubantu, mungkin hanya dengan mendengar keluh kesahmu, jangan sungkan menghubungiku.

Friday, October 7, 2011

Arum dan Kegiatannya

Arum dan Kegiatannya

Waktu Arum masih TK dan istriku berhenti bekerja, Arum mulai kursus bahasa Inggris, mewarnai dan mengaji di dekat rumah. Karena waktu istriku kerja, tidak ada yang bisa mengantar Arum kursus dan mengaji kalau aku naik ke lokasi. Itu juga yang jadi salah satu alasan istriku berhenti bekerja.
Walau kursus mewarnai cuma setahun, tapi kursus bahasa Inggris tetap berlanjut hingga sekarang ini.
Di kelas 4 ini, jadwal Arum tambah padat. Senin sampai kamis pulang sekolah jam 2 siang, sampe rumah paling cepat jam 14.45. Senin, rabu, jumat dan sabtu kursus mata pelajaran di Artha dekat rumah. Selasa, kamis dan jumat kursus bahasa Inggris di Britton. Hari kamis les keilmuwan di sekolah, sabtu eskul bahasa Inggris.
Kadang aku kasihan liat dia dengan jadwalnya yang padat, tapi dia tetap semangat. Walau kadang dia kecapekan atau lagi malas aja, tapi aku selalu tekankan untuk tetap datang kursus.
Aku cuma bisa kasih semangat dan dukungan, selama aku masih membiayai, aku akan selalu mendukung apa aja kegiatan positif yang dia lakukan. Dan aku juga tetap memperhatikan kebutuhan dia untuk bermain.

Sunday, September 25, 2011

Arum dan Bahasa Inggris

Arum dan Bahasa Inggrisnya

Arum sudah mulai kursus bahasa Inggris sejak dia masih TK, karena dia sepertinya berbakat bahasa Inggris dan dia bersemangat untuk belajar.
Total hingga tahun 2011 ini, sudah ada 4 tempat kursus yang pernah dia jalani. Di tempat kursus yang ketiga, dia minta berhenti kursus karena dia bosan, katanya kebanyakan menulis aja.
Akhirnya sekarang dia kursus di Briton, tempat kursus yang baru buka di Balikpapan waktu itu. Walaupun agak mahal, 450 ribu sebulan, tapi sepertinya bagus dan bertaraf internasional. Dan Arum pun sepertinya menikmatinya, walau kadang-kadang ada rasa malas karena capek atau karena ada sepupunya main ke rumah. Tapi aku selalu menekankan untuk selalu pergi kursus, karena selain mahal, aku juga ingin supaya Arum bekerja keras dan berusaha. Menurutku, lebih baik dia bekerja keras sejak masih kecil kalau mau sukses.
Susahnya Arum itu nggak pernah mau dicek kemampuan bahasa inggrisnya oleh aku atau mamanya. Tapi dari nilai-nilai di sekolah dan kursusnya yang rangking 2, aku tau bahwa kemampuannya cukup bagus. Apalagi sekarang juga dia ikut eskul bahasa inggris, dan terpilih dalam tim pidato bahasa inggris.
Papa selalu bangga sama kamu anakku sayang. Jangan pernah berhenti bekerja dan belajar.

Monday, September 12, 2011

Altaf

Seminggu sebelum lebaran istriku sudah berhenti berpuasa karena dokter tidak memperbolehkan istriku puasa karena sedang hamil muda. Waktu USG pertama dokter Tengku bilang kalau janinnya kecil, jadi harus diperbanyak makan dan minum susu.
Tapi waktu lebaran, dimana kehamilan yang harusnya sudah mencapai 8 minggu, istriku selalu mengeluhkan kok perutnya terasa kempes. Dia juga selalu khawatir apakah bayinya masih ada. Setelah lebaran, istriku menemukan bercak darah di celana dalamnya, tambah khawatir lah dia.
Seharusnya istriku kontrol ke dokter lagi tanggal 8 September, tapi karena ada bercak darah itu dan karena tanggal 7 aku harus kembali kerja, akhirnya kami pergi ke dokter tanggal 5 september.
Waktu di USG, dokter bilang kalau janinnya itu tidak berkembang, dan dokter Tengku menyarankan untuk di kuret. Katanya itu kasus dimana janin tidak berkembang, mungkin karena bibitnya kurang mantap, atau mungkin kurang pasokan nutrisi waktu istriku puasa ramadahan itu.
Besoknya kami ke rumah sakit pertamina untuk melakukan proses kuret dengan dokter tengku juga. Pagi-pagi kami sudah datang untuk mendaftar dan melalui prosedur pengujian darah dan detak jantung sebelum di kuret. Setelah menunggu dengan rasa was-was akhirnya jam 3 sore istriku mulai dikuret. Prosesnya tidak lama, mungkin sekitar 20 menit-an saja. Dan setelah biusnya hilang dan istriku bisa berjalan lagi, akhirnya kami pulang.
Sepulang dari rumah sakit istriku beberapa kali nangis, dia sangat merasa kehilangan anak yang sudah lama dinantikan. Aku cuma bisa menghiburnya, aku bilang, nggak papa, nanti kita coba terus lagi yah Mama.
Sesampainya di rumah malam harinya istriku masih sedih, dia merasa anak itu sudah hadir, bahkan terakhir kali kami memilih-milih nama, dia sudah menetapkan kalau anak itu akan dinamai Altaf.
Selamat jalan Altaf..

Tuesday, August 23, 2011

Pak De


Pak De

Aku punya satu panggilan lain, yaitu Pak De. Pak De itu adalah panggilan dari keponakan-keponakanku dari pihak keluargaku di Samarinda, karena aku adalah paman laki-laki yang paling tua. Sebenarnya awalnya aku kurang suka dipanggil pak de, tapi sedari kecil, Devi, keponakanku yang paling besar dari adikku sudah diajarkan untuk memanggilku pak de. Trus Dito, anak dari adikku Daus juga memanggilku pak de. Sekarang ada lagi Syila, anak dari adikku Artha juga diajarkan untuk memanggilku pak de.
Akhirnya aku terima aja panggilan itu, walaupun panggilan itu bagiku kedengarannya terlalu resmi dan berjarak, padahal aku sangat sayang dengan keponakan-keponakanku itu. Akibatnya aku menjadi sosok yang harus ditakuti dan disegani oleh keponakan-keponakanku. Devi suka diancam untuk dilaporkan ke pak de kalau dia berbuat macam-macam, dan dia kelihatannya segan sama aku, walau aku selalu berusaha mendekatkan diri kepada dia, karena aku prihatin sama dia, ibu bapaknya sudah bercerai waktu dia masih umur 7 tahun-an. Apalagi Dito, mungkin juga karena jarang bertemu aku dan aku juga agak kaku sama dia, dia menjadi kurang dekat dengan aku.
Entah kenapa, aku merasa, di pihak keluarga Samarinda, aku menjadi sosok disegani bahkan oleh ibu bapakku sendiri. Walaupun aku tidak berusaha menempatkan diri untuk minta dihormati, tapi banyak beberapa keputusan penting yang harus kusetujui dan banyak hal-hal yang disembunyikan cuma karena takut aku marah karenanya. Contohnya waktu adikku Artha memutuskan menikah dengan calon yang kurang disetujui ibuku. Mereka harus menunggu persetujuanku, dan menerima lamaran calon suaminya, namun aku berusaha menempatkan posisiku sebagai perwakilan bapakku yang kurang sehat. Aku terima lamaran calon suami adikku waktu itu karena menurutku, kalau memang mereka berniat menikah dan mereka sudah cukup dewasa, nggak ada alasan bagiku untuk menghalangi-halanginya. Masalah rezeki aku juga percaya bahwa itu datangnya dari Allah. Kita tidak bisa menentukan nasib seseorang hanya berdasarkan keadaan dia yang sekarang kan?
Jadilah aku sosok pak de bagi Devi, Dito dan Syila, sosok yang mereka harus hormati, cium tangan (yang selalu kuhindari) dan segani, walau sebenarnya bukan itu sosok paman yang ideal bagiku. Bagiku, paman adalah sosok pelengkap orang tua yang bisa menjadi panutan dan pelindung saat orang tua mereka tidak bisa kompromi dengan pola pikir anak-anak.

Monday, August 22, 2011

Hamil

22 agustus 2011
Hari ini istriku melakukan test kehamilan, dan ternyata positif. Untuk memastikan, istriku pergi ke praktek dokter Tengku, dan dokter memastikan bahwa istriku hamil. Kemungkinan masih 4 minggu, tapi juga mungkin baru 2 minggu.
Aku sangat bahagia, tapi aku berusaha tidak terlalu berlebihan. Aku hanya mengucapkan syukur dan berharap kehamilan ini lancar dan hingga kelahiran anakku ini.
Semoga Arumdapta, sudah siap menjadi kakak yang bisa menjaga dan membimbing adiknya nanti.

Sunday, August 14, 2011

06 Agustus 2011

06 Agustus 2011

Ini seharusnya hari bahagiaku karena ini adalah hari ulang tahunku, tapi ternyata tidak.
Pagi itu waktu kami sampai ke barge, barge belum sampai ke sumur tujuan. 1 jam-an kemudian, kapal sudah mulai mendekati posisi piling terluar. Seperti biasa, kami bersiap turun untuk membantu memasang tali dan positioning. Aku dan Dwi berjalan menuju sisi kanan-depan barge sambil ngobrol tanpa kami menyadari bahwa tali mooring yang ada di dekat kami sedang dalam posisi kendor. Tiba-tiba aja aku mendengar suara tali yang ditarik dan mengencang. Aku segera menjauh dan berteriak memperingatkan si Dwi. Tapi malang, kaki Dwi sudah terlanjur terjepit antara tali dan Conflexip (high pressure hose yang berlapis metal). Tali itu terus mengencang menjepit kaki Dwi, sementara dia dan aku cuman bisa berteriak berusaha menghentikan pergerakan kapal penarik. Beberapa detik kemudian akhirnya tai itu mengendor sehingga kakinya bisa dilepaskan.
Kemudian, terjadilah emergency procedure yang selama ini kita latih. Kita bawa korban ketempat yang aman, ditaruh di atas strecher, dilakukan observasi awal, kemudian diberikan bidai sebagai pertolongan pertama. Sambil aku dan C.O. Dimas melaporkan ke atasan kami di SPU dan CPU. Akhirnya kami bawa korban ke Clinic SPU untuk tindakan medis. Di sini aku berkoordinasi dengan Total dan pak Dede dari Schlumberger untuk proses evakuasi. Karena dari SPU korban dirujuk untuk X-Ray di Balikpapan karena ada kemungkinan retak.
Di SPU, mulailah pertanyaan-pertanyaan mengalir, kadang-kadang pertanyaannya berulang-ulang untuk memastikannya lagi. Belum lagi telpon dari CPU, Barikin dan Schlumberger yang datang bergantian. Kemudian investigasi dilanjutkan ke barge, lengkap dengan rekonstruksinya. Padahal hari itu aku harusnya Off, karena kejadian itu aku akhirnya pulang telat.
Di tengah kesibukan dan keruwetan itu, aku masih sempat mengecek fesbuk-ku yang di wallnya ada lebih dari 50 teman yang mengucapkan selamat ulang tahun. Sempat juga keponakanku Cyntia yang nelpon yang juga mengucapkan selamat ulang tahun. Walaupun sebenarnya aku bahagia mendengarnya, tapi aku tidak bisa antusias menjawabnya karena waktu itu aku sedang di tengah-tengah proses investigasi dan aku harus membuat laporan kronologinya.
Akhirnya aku pulang juga jam 2-an, setelah Chief Amir datang dan investigasi dan semua laporan selesai. Tapi aku juga belum bisa lega betul, karena aku masih menunggu hasil dari X-ray si Dwi. Di perjalanan pulang akhirnya aku dapat berita kalau ternyata ada retak di tulang kakinya sehingga harus dioperasi. Aku cukup lega bahwa akhirnya dia sudah mendapatkan perawatan yang baik walaupun bukan berita bagus kalau harus dioperasi.
Hari itu aku rasanya capek banget, capek karena birokrasi dan capek juga oleh beban tanggung jawabku terhadap crew-ku. Mudah-mudahan hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Mudah-mudahan hikmah yang bisa diambil lebih besar daripada kerusakannya, amin...