Altaf sudah tambah besar sekarang, Agustus ini sudah 12 tahun. Badannya sudah hampir setinggi mamanya. Sepatu nya pun sudah hampir sama dengan papa ukurannya. Tapi sekarang juga nggak se-sweet dulu, sudah memasuki masa remaja, kadang kadang suka melawan sama mamanya.
Bulan lalu, mama ada marah sama Altaf, dan Altaf pun marah juga sambil sedikit teriak sama Mamanya lalu naik ke kamar sambil menangis. Karena Papa selalu nggak suka kalau anak Papa melawan Mama, papa naik ke kamar atas mau menasehati Altaf.
Waktu Papa masuk kamar, Altaf masih nangis sambil siap siap menjawab semua apa yang mau papa katakan.
Papa waktu itu bilang, "diam dulu nangisnya, jangan jawab dulu. Kalau Altaf masih belum tenang dan nangis, sulit buat papa nasehatin Altaf".
Lalu Altaf pelan pelan menghentikan nangisnya. Papa tungguin sampe Altaf bener bener tenang. Papa diam aja, sambil liat hape. Sesekali papa liat Altaf, cuma untuk memastikan bahwa Papa masih nunggu Altaf tenang dan berhenti nangis.
Altaf tampak sedikit heran, mungkin nggak nyangka respon papa seperti itu. Emang sebelumnya papa nggak pernah begini.
Setelah tangis Altaf berhenti dan tenang, baru papa mulai bicara. Papa rasa saat itu adalah momen terbaik papa dan Altaf. Papa bisa nasehatin Altaf dengan baik, sama seperti papa menjelaskan bahwa satu soal matematika bisa diselesaikan dengan lebih dari 1 cara tapi hasilnya sama. Alhamdulilah Altaf lebih bisa menerima dan di akhir papa minta dipeluk.
Mudah2an Altaf bisa mengingat momen ini, Mudah2an papa bisa mengulangi cara ini. Mudah2an Altaf selalu tahu bahwa Papa dan Mama sangat sayang sama Altaf dan Kakak Arum sampai kapanpun.