Showing posts with label Papa. Show all posts
Showing posts with label Papa. Show all posts

Wednesday, November 30, 2011

Mendengar

Arumdapta sayang, jadilah orang yang berbelas kasih. Bersikap lembutlah pada orang yang lebih muda dan orang-orang yang lebih membutuhkan.
Bersikap hormatlah pada orang tua dan keluarga.
Dan pada suamimu nanti, hormatilah dia setinggi-tingginya, walau dia lemah atau miskin, kecuali dia telah melanggar akidah agama. Papa lebih banyak bersikap lunak sama kamu bukan berarti kamu tidak perlu menghormati papa, tapi itu tanda bahwa memang papa sangat sayang sama Arum. Pantaskah orang yang sayang sama kamu, malah kamu tidak hormati.
Bukan cuma orang lain yang punya telinga, kita juga harus mau mendengarkan. Bukan cuma kita yang punya mulut, orang lain juga berhak berbicara. Karena sebenarnya, banyak mendengar lebih baik daripada banyak bicara.

Sunday, August 14, 2011

06 Agustus 2011

06 Agustus 2011

Ini seharusnya hari bahagiaku karena ini adalah hari ulang tahunku, tapi ternyata tidak.
Pagi itu waktu kami sampai ke barge, barge belum sampai ke sumur tujuan. 1 jam-an kemudian, kapal sudah mulai mendekati posisi piling terluar. Seperti biasa, kami bersiap turun untuk membantu memasang tali dan positioning. Aku dan Dwi berjalan menuju sisi kanan-depan barge sambil ngobrol tanpa kami menyadari bahwa tali mooring yang ada di dekat kami sedang dalam posisi kendor. Tiba-tiba aja aku mendengar suara tali yang ditarik dan mengencang. Aku segera menjauh dan berteriak memperingatkan si Dwi. Tapi malang, kaki Dwi sudah terlanjur terjepit antara tali dan Conflexip (high pressure hose yang berlapis metal). Tali itu terus mengencang menjepit kaki Dwi, sementara dia dan aku cuman bisa berteriak berusaha menghentikan pergerakan kapal penarik. Beberapa detik kemudian akhirnya tai itu mengendor sehingga kakinya bisa dilepaskan.
Kemudian, terjadilah emergency procedure yang selama ini kita latih. Kita bawa korban ketempat yang aman, ditaruh di atas strecher, dilakukan observasi awal, kemudian diberikan bidai sebagai pertolongan pertama. Sambil aku dan C.O. Dimas melaporkan ke atasan kami di SPU dan CPU. Akhirnya kami bawa korban ke Clinic SPU untuk tindakan medis. Di sini aku berkoordinasi dengan Total dan pak Dede dari Schlumberger untuk proses evakuasi. Karena dari SPU korban dirujuk untuk X-Ray di Balikpapan karena ada kemungkinan retak.
Di SPU, mulailah pertanyaan-pertanyaan mengalir, kadang-kadang pertanyaannya berulang-ulang untuk memastikannya lagi. Belum lagi telpon dari CPU, Barikin dan Schlumberger yang datang bergantian. Kemudian investigasi dilanjutkan ke barge, lengkap dengan rekonstruksinya. Padahal hari itu aku harusnya Off, karena kejadian itu aku akhirnya pulang telat.
Di tengah kesibukan dan keruwetan itu, aku masih sempat mengecek fesbuk-ku yang di wallnya ada lebih dari 50 teman yang mengucapkan selamat ulang tahun. Sempat juga keponakanku Cyntia yang nelpon yang juga mengucapkan selamat ulang tahun. Walaupun sebenarnya aku bahagia mendengarnya, tapi aku tidak bisa antusias menjawabnya karena waktu itu aku sedang di tengah-tengah proses investigasi dan aku harus membuat laporan kronologinya.
Akhirnya aku pulang juga jam 2-an, setelah Chief Amir datang dan investigasi dan semua laporan selesai. Tapi aku juga belum bisa lega betul, karena aku masih menunggu hasil dari X-ray si Dwi. Di perjalanan pulang akhirnya aku dapat berita kalau ternyata ada retak di tulang kakinya sehingga harus dioperasi. Aku cukup lega bahwa akhirnya dia sudah mendapatkan perawatan yang baik walaupun bukan berita bagus kalau harus dioperasi.
Hari itu aku rasanya capek banget, capek karena birokrasi dan capek juga oleh beban tanggung jawabku terhadap crew-ku. Mudah-mudahan hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Mudah-mudahan hikmah yang bisa diambil lebih besar daripada kerusakannya, amin...

Thursday, August 4, 2011

Batal pulang

Terjadi lagi... Aku nggak jadi days off, cuma gara-gara rekan kerja yang tidak profesional.
Kemaren beritanya mr.a yang akan menggantikan aku, tapi siangnya tiba-tiba aja ada berita kalau mr.a nggak jadi naik. Padahal dia sudah naik mobil penjemput, waktu mendengar dia akan masuk siang, dia langsung balik arah, pulang, nggak jadi kerja.
Alasan yang konyol, yang membuat orang yang mendengarnya tertawa. Padahal kita, karyawan, digaji untuk kerja dimanapun kita ditunjuk.
Malamnya aku telpon bosku, dia juga nampaknya kesal banget. Dia bahkan bilang mr.a ini bagai bisul di pantat. Nggak enak banget deh kalau sampai disebut begitu.
Walaupun kecewa, tapi sebenarnya aku tidak terlalu kaget. Aku sudah menduga bakal nggak days off. Karena sebelumnya mr.b juga menuntut untuk pulang, walau baru seminggu, karena ada acara selamatan yang tidak bisa diundur satu hari aja. Konyol juga.
Yang berat, aku sudah kangen sama anakku, aku pun sudah berjanji untuk pulang. Kasian arum. Padahal aku pengen menemaninya melewati puasanya.
Sabar ya sayang, papa mau menunjukan bahwa kita harus kerja secara profesional, karena itulah yang diajarkan agama kita.

Saturday, May 14, 2011

Tradisi salim di keluargaku

Waktu liat timeline-nya @miund mengenai tradisi cium tangan/salim pada orang yang lebih tua, aku teringat pola pengajaranku kepada anakku. Pada Arum, kami tidak mengajarkan salim, kami lebih terbiasa cium pipi/bibir dan berpelukan. Saat aku pergi kerja, kami terbiasa untuk berciuman dan berpelukan, nggak pernah salim.
Menurutku, ini lebih mendekatkan kami daripada tradisi salim yang lebih pada praktik diktatorisme. Aku ingin anakku berjiwa demokratis, semua punya hak. Dan ini menurutku bisa membangkitkan rasa percaya diri anak. Jadinya sekarang di keluarga kami, tidak ada yang terlalu dominan, semuanya dibicarakan bersama.
Tapi sulitnya, dari keluarga istriku dan aku sendiri, tradisi salim itu masih kental. Jadi, Arum yang tidak terbiasa salim, kurang dianggap hormat sama orang tua.
Tapi aku bangga, tidak ada anak dikeluarga besar kami yang sangat dekat dengan bapaknya seperti anakku.
Satu lagi yang membuatku tambah yakin, di timeline @miund itu juga, resiko cium tangan dengan sembarang orang adalah adanya kemungkinan tertular penyakit. Karena kita nggak tau kan apa saja yang telah dipegang orang yang kita salimin itu?
Menghormati orang yang lebih tua bukan berarti harus salim. Lebih utama adalah bagaimana kita berbicara dan bersikap, serta menunjukan prestasi yang bisa membanggakan orang tua.

Monday, May 31, 2010

Pertanyaan Sulit


Istriku sering bertanya "Bagaimana kalau ada cewek cantik dan seksi yang bilang mau dan suka sama Papa, biarpun dia tau Papa itu sudah punya anak istri?"
Walaupun aku tau pasti, bahwa aku tak akan meninggalkan mereka, anak istriku, aku tetap bingung menjawabnya. Bagaimana bila benar terjadi?
Istriku selalu dilanda kekhawatiran bahwa aku akan berpaling atau terpikat dengan wanita lain. Karena dia sadar, di luar sana banyak wanita-wanita yang lebih cantik.
Tapi aku tau jawabannya sekarang, aku akan bilang, Papa akan bilang; "Kamu harus bersaing dengan anakku yang tersayang, yang kebahagiannya adalah sumber kebahagiaanku, dan kesedihannya menghancurkan hatiku, yang memiliki wajah yang selalu kurindukan, yang pelukannya sanggup mengobati semua luka dan pedihku. Dan mamanya, yang telah memberikannya, merawatnya dan menyayanginya, dan sekaligus merupakan cetakan asli dari anakku, yang jauh lebih dulu kucintai, saat pandangan pertama bahkan saat aku belum mengenalnya. Dan aku sadar, kecantikan dan keseksian cewek manapun tak sebanding dengan melukai dan menyakiti hati mereka berdua."
I miss you both.

Sunday, May 23, 2010

Nasihat 2

Belum separo perjalanan dari Samarinda aku nyetir menuju Balikpapan. Arum sudah tertidur pulas di jok tengah. Walau nggak ada yang khusus dibeli di Samarinda, tapi mood istriku sedang baik. Mungkin karena tadi bertemu dengan adik bungsuku yang baru aja melahirkan dan melangsungkan tasmiyahan, salah satu alasan kami ke Samarinda.
Seperti biasanya, istriku ngajak ngobrol supaya aku nggak ngantuk. Perlahan, akhirnya obrolan kami menyinggung pertengkaran antara dia dan anaknya beberapa hari lalu.
"Ma, jangan terlalu keras sama Arum." aku memulai, memasuki celah mood dan topik.
"Sadar nggak kalau dia itu sebenarnya fotokopi mama sendiri. Seringkali, orang itu dianugrahi anak oleh Allah yang sifatnya persis seperti diri mereka sendiri. Kalau mereka kerap merepotkan atau menjengkelkan kita, mungkin itu merupakan peringatan dari Allah, bahwa seperti itulah dulu kita membuat repot dan jengkel orang tua kita. Kadang pula kita marah melihat tabiat jelek anak kita, karena kita tau, tabiat jelek itu yang dulu kita punya, yang kadang-kadang masih ada sampai sekarang." Istriku tersenyum tipis, sadar bahwa betapa mirip anaknya dengan dia waktu kecil dulu.
"Cobalah lebih berkompromi dengan dia, yang berarti juga berkompromi dengan diri sendiri."
"Tau nggak kenapa dia suka iri sama Mama?, karena dia merasa papa lebih sayang kepada mama daripada kepada dia. Dia cemburu karena mama lebih sering dibelikan."
"Papa, lebih banyak perhatian sama Arum, harapannya mama bisa maklum, karena mama yang lebih dewasa, bisa lebih mengerti."
"Bagi papa, Arum memang kesayangan papa nomer satu, tapi mama, kecintaan papa nomer satu." kataku sambil mencubit dagu istriku, seperti kebiasaanku. Itulah keadilan yang bisa kuberikan pada mereka.
Di dalam hati, aku berjanji, aku akan memberi waktu lebih buat istriku. I love you both.

Friday, December 11, 2009

Cemburu

Sayangku, kamu harusnya tidak perlu cemburu dengan buah hati kita. Memang seolah dia telah sepenuhnya memiliki aku. Memang seolah dia telah menguasai semua perhatianku. Tapi percayalah, dia memilikiku karena aku milik kalian berdua. Dia menguasai semua perhatianku karena perhatianku hanya pada kalian berdua.
Coba kau lihat dirinya lebih seksama, niscaya akan kau temukan bahwa kamu dan dirinya sama. Kau seakan-akan melihat dirimu sendiri ketika kau persis seumuran dia. Jadi jika aku sangat menyayanginya, berarti aku juga menyayangi kamu. Walaupun dia agak judes dan cerewet, tapi aku juga cinta sama orang yang menurunkan judes dan cerewetnya itu.
Walaupun emosinya gampang berubah, berusaha mengembalikan emosi terbaiknya merupakan suatu kewajibanku, sama seperti sejak pertama kita bertemu.
Aku memang ingin dia merasa teristimewa bagi kita, agar tumbuh percaya diri dalam jiwanya.
Aku memang ingin dia menerima sayang kita sebanyak-banyaknya, agar dia juga bisa menebar rasa kasih sayang.
Aku memang ingin dia bebas memilih, agar dia belajar konsekwensi dari pilihannya sejak dini.
Aku memang ingin dia menjelajahi hal sebanyak-banyaknya, agar luas wawasannya.
Bukan karena aku memanjakannya, tapi karena harapanku sangat besar terhadapnya.
Jika ada sifatnya yang tidak kau suka, mungkin itulah juga yang dirasakan ibumu dulu. Jangan terlalu menentangnya, tapi pahami dan dekati, seolah ini kesempatan keduamu dalam hidup.
Jangan kau paksakan dia menjadi apa yang dulu tidak bisa kamu wujudkan. Karena kemiripan kalian akan terpengaruh oleh perkembangan jaman. Tapi berikanlah semua kesempatan baik, yang dulu tak pernah kita dapatkan.
Tugas kita adalah, memberinya bekal ilmu dan akhlak sebanyak-banyaknya. Tuntun dia ke semua gerbang pengalaman yang positif, lalu biarkan jiwanya yang masih bersih menentukan pilihannya.
Bagiku, kalian adalah satu paket anugerah dari Allah yang terbesar yang pernah kuterima. Betapa murah hatinya Allah dengan memberikan bonus saat aku menemukan wanita yang kucintai sejak pertama aku melihatmu.