Waktu kuliah, walaupun nggak yang paling pintar, tapi nilai-nilaiku lumayan bagus. Aku nampaknya paling beruntung untuk mata kuliah Kalkulus, Mekanika, Baja dan Beton. Yang bagi sebagian besar teman-temanku merupakan momok. Tapi untuk mata kuliah pelabuhan dan statistik, aku nyerah, C aja cukup deh.
Sebenarnya dengan modal itu, aku pengen melanjutkan kuliah lagi. Malah aku sebenarnya berangan-angan untuk bisa kuliah di luar negeri, karena salah satu temanku, Monita, beruntung bisa melanjutkan S-2 ke Inggris.
Tapi aku mengubur angan-anganku itu. Bukan karena aku menyerah dengan keadaan. Kondisi keuangan keluargaku tidak memungkinkan, waktu itu masih dalam masa krisis ekonomi. Sedangkan untuk beasiswa, terus terang aku tidak tahu harus mencari kemana.
Aku cuma menjalani jalan hidup yang terbentang dihadapanku, aku tidak menyesali yang sudah terjadi yang membawaku ke titik ini.
Mungkin kalau aku waktu itu bisa melanjutkan kuliah, aku tidak akan bertemu istriku yang sekarang, yang memberiku anak yang sangat kusayangi, Arumdapta.
Alhamdulillah, ternyata sedari kecil pun Arum sudah berniat untuk sekolah di luar negeri.
Insyaallah, papa akan mewujudkan cita-citamu, sayang. Semua yang papa kerjakan sekarang untuk mewujudkan cita-citamu. Mudah-mudahan Allah mengabulkan cita-citamu yang mulia. Bukan demi papa, tapi demi ibadah. Amin.
Buah Pikiran dan Tulisan, Pesan untuk buah hatiku... Arumdapta dan Altaf
Tuesday, December 27, 2011
Monday, December 26, 2011
Liburan Arum

Tanggal 24 desember kemarin Arum pergi liburan ke Jakarta, tidak dengan aku, tidak dengan mamanya, tapi dengan tantenya, bu Nila. Sudah dari minggu lalu bu Nila merencanakan liburan ke Jakarta, ke tempat tante Santi, adiknya bu Nila dan istriku. Dan waktu Arum ditawarin ikut, ternyata Arum mau, walaupun mamanya nggak ikut. Istriku nggak ikut karena uangnya nggak cukup dan karena bulan lalu kami baru dari Jakarta juga walau cuma sebentar. Lagian, bu Nila pergi sama bapak Lugi, suaminya dan 2 anaknya, Cyntia dan Adis, kalau istriku ikut juga bakal terlalu rame.
Awalnya aku ragu, bisa nggak Arum ini pergi tanpa Mama Papanya. Karena biasanya dia hampir nggak pernah pisah sama mamanya. Kalaupun pernah waktu mamanya liburan ke Bandung, Arum masih sama aku. Tapi walaupun nggak ada mamanya dia nggak cerewet. Apalagi nggak ada aku, dia sudah biasa banget.
Tapi aku dan istriku berpendapat juga mungkin ini kesempatan dia untuk belajar mandiri. Lagian dia disana sama tantenya sendiri.
Yang pinter ya sayang, jangan terlalu cerewet, tunjukan kalau kamu bisa mandiri.
Wednesday, December 21, 2011
Statusku
Terjadi lagi, crew change yang kacau. Aku cuma bekerja dengan 2 orang crew untuk 1 hari. Penyebabnya, si Dwi nggak tau kalau dia harus naik sama Kiki. Parahnya lagi, Kiki datang terlambat, selisih 3 jam dari kedatangannya Dwi, jadi kalaupun Dwi tau, tetap aja kelamaan nunggu Kiki.
Penyebab lainnya, Kiki tidak berangkat satu mobil dengan Dwi. Kiki malah berangkat sama si A yang ternyata menyempatkan diri singgah di mall di samarinda.
Aku sempet dongkol, dan kutulis di status fesbuk-ku. Kusebut juga gara-gara bos besar yang datang telat. Nah rupanya si bos besar ini, entah tau dari istrinya atau teman kami juga, baca statusku ini. Waktu tadi malam naik dan ketemu di barge dia sempet ngomong, "lain kali jangan tulis sembarangan di fesbuk, telpon aja langsung". Aku yang sudah tau maksudnya cuma mengiyakan.
Semalaman aku sempat merasa nggak enak, yang ditandai dengan mual di perutku. Bukan apa, aku bakal ketemu dia terus 2 minggu ini, kalau gini caranya, kerja kita nggak akan kondusif.
Sebenarnya bukan aku aja yang capek dan dongkol dengan tingkahnya. Orang kantor pun rupanya sudah dongkol juga. Dan aku sedikit lega juga dia tau itu, mungkin dia selama ini nggak tau kalau dia sering dicaci orang.
Tapi ada sedikit penyesalan dalam diriku, aku harusnya bisa lebih mengontrol apa yang kutuliskan di depan publik, apalagi aku tau ada resiko orang yang kusinggung bakal melihatnya.
Aaahhh.... Hal-hal gini dan orang-orang kayak gitu yang bikin aku malas kerja ditempat ini. Insyaallah kalau ada tantangan baru akan kuambil.
Penyebab lainnya, Kiki tidak berangkat satu mobil dengan Dwi. Kiki malah berangkat sama si A yang ternyata menyempatkan diri singgah di mall di samarinda.
Aku sempet dongkol, dan kutulis di status fesbuk-ku. Kusebut juga gara-gara bos besar yang datang telat. Nah rupanya si bos besar ini, entah tau dari istrinya atau teman kami juga, baca statusku ini. Waktu tadi malam naik dan ketemu di barge dia sempet ngomong, "lain kali jangan tulis sembarangan di fesbuk, telpon aja langsung". Aku yang sudah tau maksudnya cuma mengiyakan.
Semalaman aku sempat merasa nggak enak, yang ditandai dengan mual di perutku. Bukan apa, aku bakal ketemu dia terus 2 minggu ini, kalau gini caranya, kerja kita nggak akan kondusif.
Sebenarnya bukan aku aja yang capek dan dongkol dengan tingkahnya. Orang kantor pun rupanya sudah dongkol juga. Dan aku sedikit lega juga dia tau itu, mungkin dia selama ini nggak tau kalau dia sering dicaci orang.
Tapi ada sedikit penyesalan dalam diriku, aku harusnya bisa lebih mengontrol apa yang kutuliskan di depan publik, apalagi aku tau ada resiko orang yang kusinggung bakal melihatnya.
Aaahhh.... Hal-hal gini dan orang-orang kayak gitu yang bikin aku malas kerja ditempat ini. Insyaallah kalau ada tantangan baru akan kuambil.
Thursday, December 15, 2011
Hobi
Hobi
Sebenarnya hobiku itu banyak, tapi mungkin yang paling favorit adalah membaca. Dari dulu aku suka banget membaca, dari Lima Sekawan, Musashi dan Sidney Sheldon. Dan semenjak bertambahnya umur, bergeser juga seleraku. Sekarang aku lebih suka baca novel kriminal, sejarah dan psikologi seperti karya Dan Brown, Anne Rice, Stephen King dan Dewi Lestari. Nah, Dewi Lestari ini mungkin satu-satunya penulis novel dari Indonesia yang kusukai.
Sedangkan novel-novel favoritku adalah Contact (Carl Sagan), Mummy (Anne Rice), Supernova dan Golden Compas. Bagiku novel-novel itu bisa membawa kita masuk ke dalam cerita dengan deskripsi yang detail dan menakjubkan.
Sekarang aku juga hobi berkebun. Aku suka banget menanam tanaman, terutama sayur dan buah. Di belakang rumahku aku sudah mulai menanam lombok, caisim, seledri dan mangga. Dan sekarang aku juga berniat menyusun taman di belakang rumah secara bertahap.
Tapi hobiku yang terbesar sekarang adalah menghabiskan waktu dengan anak istriku, walau itu cuma nonton tivi atau berprakarya bersama-sama. Dengan irama kerjaku yang sekarang, waktu bersama-sama terasa begitu berharga bagiku. Aku ingin anakku nanti mengingatku sebagai orang tua yang selalu berusaha dekat dengan anak istrinya. Yang menganggap bahwa, apapun yang terjadi, keluarga tetaplah yang paling berharga.
Sebenarnya hobiku itu banyak, tapi mungkin yang paling favorit adalah membaca. Dari dulu aku suka banget membaca, dari Lima Sekawan, Musashi dan Sidney Sheldon. Dan semenjak bertambahnya umur, bergeser juga seleraku. Sekarang aku lebih suka baca novel kriminal, sejarah dan psikologi seperti karya Dan Brown, Anne Rice, Stephen King dan Dewi Lestari. Nah, Dewi Lestari ini mungkin satu-satunya penulis novel dari Indonesia yang kusukai.
Sedangkan novel-novel favoritku adalah Contact (Carl Sagan), Mummy (Anne Rice), Supernova dan Golden Compas. Bagiku novel-novel itu bisa membawa kita masuk ke dalam cerita dengan deskripsi yang detail dan menakjubkan.
Sekarang aku juga hobi berkebun. Aku suka banget menanam tanaman, terutama sayur dan buah. Di belakang rumahku aku sudah mulai menanam lombok, caisim, seledri dan mangga. Dan sekarang aku juga berniat menyusun taman di belakang rumah secara bertahap.
Tapi hobiku yang terbesar sekarang adalah menghabiskan waktu dengan anak istriku, walau itu cuma nonton tivi atau berprakarya bersama-sama. Dengan irama kerjaku yang sekarang, waktu bersama-sama terasa begitu berharga bagiku. Aku ingin anakku nanti mengingatku sebagai orang tua yang selalu berusaha dekat dengan anak istrinya. Yang menganggap bahwa, apapun yang terjadi, keluarga tetaplah yang paling berharga.
Wednesday, November 30, 2011
Mendengar
Arumdapta sayang, jadilah orang yang berbelas kasih. Bersikap lembutlah pada orang yang lebih muda dan orang-orang yang lebih membutuhkan.
Bersikap hormatlah pada orang tua dan keluarga.
Dan pada suamimu nanti, hormatilah dia setinggi-tingginya, walau dia lemah atau miskin, kecuali dia telah melanggar akidah agama. Papa lebih banyak bersikap lunak sama kamu bukan berarti kamu tidak perlu menghormati papa, tapi itu tanda bahwa memang papa sangat sayang sama Arum. Pantaskah orang yang sayang sama kamu, malah kamu tidak hormati.
Bukan cuma orang lain yang punya telinga, kita juga harus mau mendengarkan. Bukan cuma kita yang punya mulut, orang lain juga berhak berbicara. Karena sebenarnya, banyak mendengar lebih baik daripada banyak bicara.
Bersikap hormatlah pada orang tua dan keluarga.
Dan pada suamimu nanti, hormatilah dia setinggi-tingginya, walau dia lemah atau miskin, kecuali dia telah melanggar akidah agama. Papa lebih banyak bersikap lunak sama kamu bukan berarti kamu tidak perlu menghormati papa, tapi itu tanda bahwa memang papa sangat sayang sama Arum. Pantaskah orang yang sayang sama kamu, malah kamu tidak hormati.
Bukan cuma orang lain yang punya telinga, kita juga harus mau mendengarkan. Bukan cuma kita yang punya mulut, orang lain juga berhak berbicara. Karena sebenarnya, banyak mendengar lebih baik daripada banyak bicara.
Friday, November 25, 2011
Futsal

Beberapa bulan yang lalu, di Sei Meriam di dekat mess kerjaku, dibuka lapangan futsal yang baru.
Sebelumnya, di mess kalau sore-sore kami sering bermain takraw. Dengan memanfaatkan halaman mess yang lebih kecil dari lapangan takraw, hampir setiap sore kami main takraw. Waktu itu aku sudah lumayan bisa main ketika musim futsal tiba dengan dibukanya lapangan itu.
Sudah sekitar 2 bulan ini, kalau memang memungkinkan, kami main futsal sepulang kerja. Apalagi kalau ketemu crew yang pintar main bola, biasanya kami main 2 hari sekali. Pernah malah, pas 2 crew ketemu yang hampir semua bisa main futsal, kami main 3 hari berturut-turut. Akhirnya kami membuat kostum futsal yang aku koordinir atas permintaan teman-teman juga.
Aku sebenarnya nggak jago main bola, malah jelek banget. Makanya kalau main aku cuma jadi bek, that's the best I can do. Aku cuma ingin berolahraga. Dan aku tidak pernah memaksakan diri, kalau capek ya gantian. Karena banyak teman juga mau main. Istriku juga selalu mengingatkan untuk hati-hati, malah kadang melarang. Jadi kadang-kadang aku nggak bilang kalau mau main futsal. Bukannya aku mau bohong, cuma supaya dia nggak terlalu khawatir aja. Soalnya, kita seringnya main jam 10 malam. Karena kita pulang kerja rata-rata jam 9. Nggak papa deh, kan niatnya olahraga. Insyaallah.
Wednesday, November 23, 2011
16 November 2011
16 November 2011
Setelah sarapan yang banyak bersama anak istri dan mertuaku, jam 7 aku naik taksi ke Hotel Borobudur. Dan memang tidak terlalu jauh, nggak sampai 30 menit aku sampai ke hotel Borobudur.
Di sana sudah banyak juga yang menunggu untuk diinterview. Setelah lapor dan menyerahkan CV yang terbaru, aku duduk menunggu. Sambil menunggu, aku sempat ngobrol dengan beberapa orang dan ternyata sebagian besar calon pelamar tidak tahu pasti juga buat perusahaan apa, atau nanti statusnya gimana. Dari yang kudengar, yang dicari adalah posisi mechanic, assisten electric dan slickline operator. Sedangkan yang meng-interview ada 3 orang dengan tampang arab.
Waktu menunggu, diputar video mengenai National Drilling Company yang tampaknya merupakan perusahaan yang akan merekruit para pelamar ini.
Sampai jam 11 aku mulai gelisah karena belum dipanggil. Sebelumnya aku sempat disuruh nunggu, katanya nanti interview-nya lewat telepon. Di sini aku mulai jengah, sementara yang lain dipanggil bergantian, aku belum dipanggil bahkan dijanjikan cuma interview lewat telepon. Ngapain harus ke Jakarta kalau gitu?
Pas jam makan siang, kami cuma disediakan kue-kue, untung tadi sarapanku agak banyak.
Jam 2 siang, setelah tinggal 5 orang, akhirnya salah satu bos Lansima itu menanyai kami satu persatu, yang posisi mekanik sudah ditutup karena sudah diisi. Sedangkan aku, untuk posisi Slickline, nanti akan ditelpon langsung untuk interview.
Walaupun dongkol banget sebenarnya, tapi aku langsung pulang ke hotel tanpa banyak tanya-tanya. Akhirnya aku punya gambaran seperti apa Lansima ini. Kalau lain kali dia panggil lagi untuk interview, asal nggak ganggu jadwalku, mungkin aku datang.
Setelah sarapan yang banyak bersama anak istri dan mertuaku, jam 7 aku naik taksi ke Hotel Borobudur. Dan memang tidak terlalu jauh, nggak sampai 30 menit aku sampai ke hotel Borobudur.
Di sana sudah banyak juga yang menunggu untuk diinterview. Setelah lapor dan menyerahkan CV yang terbaru, aku duduk menunggu. Sambil menunggu, aku sempat ngobrol dengan beberapa orang dan ternyata sebagian besar calon pelamar tidak tahu pasti juga buat perusahaan apa, atau nanti statusnya gimana. Dari yang kudengar, yang dicari adalah posisi mechanic, assisten electric dan slickline operator. Sedangkan yang meng-interview ada 3 orang dengan tampang arab.
Waktu menunggu, diputar video mengenai National Drilling Company yang tampaknya merupakan perusahaan yang akan merekruit para pelamar ini.
Sampai jam 11 aku mulai gelisah karena belum dipanggil. Sebelumnya aku sempat disuruh nunggu, katanya nanti interview-nya lewat telepon. Di sini aku mulai jengah, sementara yang lain dipanggil bergantian, aku belum dipanggil bahkan dijanjikan cuma interview lewat telepon. Ngapain harus ke Jakarta kalau gitu?
Pas jam makan siang, kami cuma disediakan kue-kue, untung tadi sarapanku agak banyak.
Jam 2 siang, setelah tinggal 5 orang, akhirnya salah satu bos Lansima itu menanyai kami satu persatu, yang posisi mekanik sudah ditutup karena sudah diisi. Sedangkan aku, untuk posisi Slickline, nanti akan ditelpon langsung untuk interview.
Walaupun dongkol banget sebenarnya, tapi aku langsung pulang ke hotel tanpa banyak tanya-tanya. Akhirnya aku punya gambaran seperti apa Lansima ini. Kalau lain kali dia panggil lagi untuk interview, asal nggak ganggu jadwalku, mungkin aku datang.
Subscribe to:
Posts (Atom)