15 November 2011
Alhamdulillah akhirnya pak Niti datang juga menggantikan aku di barge, cuma sekitar terlambat 5 menit dari perkiraanku. Aku menargetkan sampai Balikpapan jam 7 malam, jadi kayaknya waktunya lebih dari cukup.
Alhamdulillah aku sampe rumah jam 6.15, setelah mandi dan beres-beres, kami berangkat ke bandara. Siang sebelumnya ternyata mertuaku memutuskan untuk ikut ke Jakarta untuk menengok anaknya yang di Jakarta, jadinya kita berangkat berempat.
Pesawatnya delay 1 jam, sampai jakarta pun sudah sangat malam. Ternyata, kamar yang sejam sebelumnya masih ada, sudah terisi. Jadinya kami sempat putar-putar hampir satu jam untuk mencari hotel. Sempat kami berpikir untuk ke hotel yang mahal sekalian, tapi si supir taksi yang mengantar kami pesimis bakal ada kamar kosong. Pikiran kami, masak sih nggak ada yang kosong kamar di seluruh hotel di ibukota ini?. Untungnya kami dapat kamar di hotel Millenium yang cukup bagus walau harganya cukup mahal. Nggak papa, yang penting kita bisa segera beristirahat. Aku sangat perlu beristirahat untuk persiapan job interview esok harinya.
Buah Pikiran dan Tulisan, Pesan untuk buah hatiku... Arumdapta dan Altaf
Tuesday, November 15, 2011
Thursday, November 10, 2011
Movieholic
Sekitar 2 minggu yang lalu, Arum ikut acara Movieholic di tempat kursus bahasa Inggris-nya. Jadi, hari sabtu jam 2 Arum diantar Kai supir, karena waktu itu aku sedang di lokasi, dan dijemput lagi jam 6 sore. Aku sempat khawatir juga, karena inilah pertama kalinya dia pergi keluar tanpa ditemani papa mama-nya atau keluarganya. Dia dibekali handphone dan uang secukupnya agar bisa dimonitor kapan saja. Dan ternyata film yang ditonton adalah Johny English, film favoritnya.
Ternyata anakku sekarang sudah besar. Walaupun khawatir, tapi ada saatnya kita harus melepaskan anak kita mengarungi dunianya. Mudah-mudahan bekal moral yang kita berikan cukup untuknya.
Ternyata anakku sekarang sudah besar. Walaupun khawatir, tapi ada saatnya kita harus melepaskan anak kita mengarungi dunianya. Mudah-mudahan bekal moral yang kita berikan cukup untuknya.
Wednesday, November 9, 2011
Rekan Kerja
Entah kenapa rekan kerjaku yang satu itu. Selalu sok hebat, sok penting. Kalau memerintah rekannya sendiri selalu mengintimidasi dengan nada suaranya yang ngegas terus dan melotot melotot. Apalagi kalau ada salah sedikit, pasti dibesar-besarkan, padahal dia nggak tau persis masalahnya.
Kalau hand over, diulur-ulur, tapi kalau dia yang mau pulang maunya cepat.
Kalau job, macam-macam barang diorder, maunya semuanya berlebihan.
Wah, kalau mau disebutin semua, bisa jadi novel.
Tapi aku positif thinking aja, mungkin dia itu cuma iri sama aku. Walaupun gajiku tidak sampai setengah gajinya, tapi aku bisa lebih bahagia karena aku tidak tergantung dengan rokok, miras dan yang jelas aku punya keluarga yang saling menyayangi. Kalau dia, kayaknya nggak perduli sama keluarganya. Yang diutamakan malah hal hal lain yang lebih bersifat duniawi. Harusnya kasihan ngeliatnya.
Mungkin, kalau ada salah satu motivasi yang membuat aku keluar dari perusahaan ini, ya dia. Intinya, nggak enak kerja sama dia. Tapi perusahaan seperti tidak berdaya, jadinya ya seperti duri di pantat. Amit-amit deh.
Kalau hand over, diulur-ulur, tapi kalau dia yang mau pulang maunya cepat.
Kalau job, macam-macam barang diorder, maunya semuanya berlebihan.
Wah, kalau mau disebutin semua, bisa jadi novel.
Tapi aku positif thinking aja, mungkin dia itu cuma iri sama aku. Walaupun gajiku tidak sampai setengah gajinya, tapi aku bisa lebih bahagia karena aku tidak tergantung dengan rokok, miras dan yang jelas aku punya keluarga yang saling menyayangi. Kalau dia, kayaknya nggak perduli sama keluarganya. Yang diutamakan malah hal hal lain yang lebih bersifat duniawi. Harusnya kasihan ngeliatnya.
Mungkin, kalau ada salah satu motivasi yang membuat aku keluar dari perusahaan ini, ya dia. Intinya, nggak enak kerja sama dia. Tapi perusahaan seperti tidak berdaya, jadinya ya seperti duri di pantat. Amit-amit deh.
Tokso
Minggu lalu kami ke dokter Tengku lagi. Kali ini agendanya memeriksa hasil uji TORCH. Kesimpulannya, di tubuh kami berdua ada Virus Rubella yang masih sepupu dengan virus tokso, tapi punya hobi yang sama, yaitu merusak janin. Tapi kata dokter, virus yang ada ini sifatnya tidak aktif, tidak sedang menular, tapi bisa aktif lagi dan merusak janin. Mungkin virus ini yang menyebabkan janin istriku tidak berkembang kemarin.
Jadi kami diberi obat lagi yang harus diminum selama 4 minggu secara disiplin. Prinsipnya, obat ini akan mengaktifkan virus ini dan kemudian membunuhnya. Harga obatnya lumayan mahal, hampir 900 ribu.
4 bulan lagi nanti kami akan tes darah lagi untuk memeriksa apakah virusnya itu sudah mati.
Insyaallah, ada jalan. B
Jadi kami diberi obat lagi yang harus diminum selama 4 minggu secara disiplin. Prinsipnya, obat ini akan mengaktifkan virus ini dan kemudian membunuhnya. Harga obatnya lumayan mahal, hampir 900 ribu.
4 bulan lagi nanti kami akan tes darah lagi untuk memeriksa apakah virusnya itu sudah mati.
Insyaallah, ada jalan. B
Tuesday, November 8, 2011
Job interview
Beberapa hari yang lalu, aku menerima invitation letter untuk interview dari PT. Lansima di Jakarta. Istriku sebelumnya memang ada mengirim CV-ku ke Lansima ini setelah melihat info lowongan di internet. Nampaknya Lansima ini merupakan penyalur tenaga kerja untuk perusahaan-perusahaan di luar negeri.
Yang jadi masalah, jadwal interview ini rabu depan. Padahal rabu adalah hari crew change-ku. Kalaupun aku bisa cuma naik seminggu, tetap biasanya aku bisa off hari selasa, padahal interview-nya di Jakarta.
Mulanya aku pesimis, selain karena jadwal yang susah ini, juga karena aku nggak punya gambaran yang jelas seperti apa Lansima ini. Yang jelas, dia cuma penyalur tenaga kerja. Tapi istriku bersikeras untuk aku tetap mencobanya. Dia kayaknya sudah mulai jenuh dengan perusahaanku yang sekarang yang gajiannya suka nggak menentu.
Akhirnya aku coba nelpon pak Niti, teman sesama CO yang bisa diandalkan. Ternyata dia mau menggantikan aku tanggal 15 nanti. Syukurlah. Akhirnya aku putuskan akan mengikuti interview itu. Mengenai apa yang akan terjadi nanti di sana, aku serahkan aja pada Allah. Walaupun aku tidak diterima, paling nggak aku bisa ngajak anak istriku jalan-jalan.
Tapi masih ada kekhawatiran dalam diriku. Situasi lapangan yang tidak menentu bisa mengacaukan jadwal crew change kami. Padahal istriku sudah beli tiket pulang pergi nih.
Perhitunganku sih sudah matang, temanku pun bisa diandalkan, tapi takdir tetap di tangan Tuhan. Insyaallah, ada jalan.
Yang jadi masalah, jadwal interview ini rabu depan. Padahal rabu adalah hari crew change-ku. Kalaupun aku bisa cuma naik seminggu, tetap biasanya aku bisa off hari selasa, padahal interview-nya di Jakarta.
Mulanya aku pesimis, selain karena jadwal yang susah ini, juga karena aku nggak punya gambaran yang jelas seperti apa Lansima ini. Yang jelas, dia cuma penyalur tenaga kerja. Tapi istriku bersikeras untuk aku tetap mencobanya. Dia kayaknya sudah mulai jenuh dengan perusahaanku yang sekarang yang gajiannya suka nggak menentu.
Akhirnya aku coba nelpon pak Niti, teman sesama CO yang bisa diandalkan. Ternyata dia mau menggantikan aku tanggal 15 nanti. Syukurlah. Akhirnya aku putuskan akan mengikuti interview itu. Mengenai apa yang akan terjadi nanti di sana, aku serahkan aja pada Allah. Walaupun aku tidak diterima, paling nggak aku bisa ngajak anak istriku jalan-jalan.
Tapi masih ada kekhawatiran dalam diriku. Situasi lapangan yang tidak menentu bisa mengacaukan jadwal crew change kami. Padahal istriku sudah beli tiket pulang pergi nih.
Perhitunganku sih sudah matang, temanku pun bisa diandalkan, tapi takdir tetap di tangan Tuhan. Insyaallah, ada jalan.
Friday, October 28, 2011
Arumdapta

Waktu lahir dulu, Arum seukuran berat bayi pada umumnya, tidak terlalu besar dan tidak juga kecil. Rambutnya tipis, tengkorak kepalanya belum rata, agak putih dan matanya agak sipit seperti anak cina.
Sekarang, umur 9 tahun 5 bulan, tingginya sudah di bawah dagu mamanya, masih kurus walau kuat makan dan kakinya terlihat panjang. Rambutnya yang nggak pernah mau dia potong, agak kecoklatan, panjang dan agak bergelombang. Kalau sehari aja nggak pake shampo, pasti susah disisir. Rambutnya tidak setebal mamanya, tapi karena panjang, kalau jatuh ke depan membentuk wajahnya menjadi memanjang.
Wajahnya yang agak lonjong, sekarang agak kecoklatan karena matahari akibat aktifitasnya. Kalau dia pake seragam sekolah dan jilbabnya, wajahnya terlihat mungil dibanding teman-teman sekolahnya. Ada bekas luka di ujung alis kirinya. Giginya belum rata, jadi kalau tersenyum seperti ada gigi gingsul. Kalau dia tersenyum lebar, matanya menyipit.
Matanya indah sekali, dengan bulu mata yang lentik, bersinar cerah jika sedang semangat. Dari kecil, sinar matanya tampak selalu bersinar.
Badannya sekarang juga agak coklat karena sering berenang dan bersepeda. Karena badannya yang kurus, pake baju apapun dan warna apapun, kayaknya cocok. Tapi dia terlihat lebih cantik kalau pake baju dengan warna-warna yang terang dan menyolok. Yang entah mengapa, tidak terlihat norak kalau dia pake.
Seringkali, kalau kami lihat dia sekarang, kami terharu. Kami tidak menyangka, bayi mungil itu dulu, sekarang sudah besar dan mulai dewasa. Kami hanya bisa bersyukur dia bisa tumbuh dengan sehat.
Ya Allah, berikanlah dia selalu kesehatan dan keselamatan. Dan berikanlah kami kesehatan dan keselamatan, agar kami dapat melihatnya tumbuh dewasa. Dan berkahilah umur panjang kami dengan kasih sayang dan kerukunan. Amin.
Sunday, October 23, 2011
19 oktober 2011
19 oktober 2011
Janji temu dengan dokter Tengku lagi, pas istriku haid setelah dikuret dulu. Kali ini kami cuma disuruh tes lab lagi untuk mengecek apakah ada diantara kami yang terkena virus Tokso. Karena hasil lab atas sample yang diambil waktu kuret, dipastikan bahwa memang janin yang kemaren itu memang tidak berkembang.
Istriku juga cuma diberi obat yang dimakan 1 kali sehari.
Waktu kami tanya biaya lab-nya, aku sempat kaget, ternyata biayanya lebih dari 2 juta tiap orang. Katanya sih nanti awal bulan bakal ada diskon 20 persen, tapi mungkin aku belum pulang dari lokasi. Akhirnya kami putuskan aku duluan yang ambil darah, alhamdulillah ada diskon 8 persen, sedangkan istriku rencananya ambil darah awal bulan nanti biar bisa lebih murah.
Sempat aku merasa berat, tapi memang ini konsekuensinya. Mudah-mudahan semua ini ada hikmahnya. Insyaallah, apapun yang diberi Allah, akan kami terima.
Janji temu dengan dokter Tengku lagi, pas istriku haid setelah dikuret dulu. Kali ini kami cuma disuruh tes lab lagi untuk mengecek apakah ada diantara kami yang terkena virus Tokso. Karena hasil lab atas sample yang diambil waktu kuret, dipastikan bahwa memang janin yang kemaren itu memang tidak berkembang.
Istriku juga cuma diberi obat yang dimakan 1 kali sehari.
Waktu kami tanya biaya lab-nya, aku sempat kaget, ternyata biayanya lebih dari 2 juta tiap orang. Katanya sih nanti awal bulan bakal ada diskon 20 persen, tapi mungkin aku belum pulang dari lokasi. Akhirnya kami putuskan aku duluan yang ambil darah, alhamdulillah ada diskon 8 persen, sedangkan istriku rencananya ambil darah awal bulan nanti biar bisa lebih murah.
Sempat aku merasa berat, tapi memang ini konsekuensinya. Mudah-mudahan semua ini ada hikmahnya. Insyaallah, apapun yang diberi Allah, akan kami terima.
Subscribe to:
Posts (Atom)