Aku masih berkutat dengan lemahnya ingatanku.
Banyaknya teman-teman sekolah, kuliah dan kerja yang kerap tidak kuingat namanya. Teman-teman yang dulu memang tidak terlalu dekat atau tidak ada kenangan bersama yang erat melekat.
Hal ini kerap membuatku salah tingkah waktu bertemu orang-orang yang ingat sama aku tapi aku lupa sama namanya, walau biasanya aku masih ingat wajahnya.
Tapi tenang saja teman-teman dan sahabat-sahabat karibku, yang pernah melalui masa-masa susah dan senang bersamaku, yang merekatkan erat memori itu di otakku selalu, aku takkan mungkin melupakan kalian.
Ada satu tips agar kita gampang mengingat nama seseorang, sering-seringlah memanggil namanya. Insyaallah, dia pun tak akan bisa melupakan kita.
Padahal dulu, pernah aku ingin memiliki amnesia, melupakan masa-masa pahit romansa yang berakhir pedih.
Buah Pikiran dan Tulisan, Pesan untuk buah hatiku... Arumdapta dan Altaf
Monday, October 18, 2010
Sunday, October 3, 2010
Tablig Akbar
Hari ini aku menghadiri tabligh akbar di mesjid dekat rumahku. Sebuah mesjid setengah jadi di komplek perumahan elit yang dihuni oleh mayoritas non-muslim.
Acara pertama adalah sambutan dari ketua pembina mesjid. Sang ketua menceritakan latar belakang mesjid tersebut. Bahwa mesjid itu didirikan mulanya dari proses yang panjang, karena developer adalah non-muslim dan nampaknya sangat berat untuk memberikan tanah.
Acara kedua adalah penjelasan teknis yang ternyata berupa penggalangan dana untuk menyelesaikan mesjid itu oleh sang arsitek yang juga seorang ustad. Penggalangan dana dilakukan dengan paparan volume pekerjaan lantai, plafon dan cat, lalu para hadirin "ditantang" untuk memberikan komitmen, dalam satuan meter pekerjaan, sekecil apapun itu. Beberapa orang yang memang terkenal sangat kaya bahkan ditawarin untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan lantai. Hasilnya, 3 orang sekaligus bersedia menanggung pekerjaan lantai sebesar 450 juta. Sedangkan, pekerjaan plafon dan cat dibagi kepada jamaah dengan variasi jumlah komitmen. Menakjubkan, dalam 45 menit, berhasil didapatkan komitmen sebesar 725 juta rupiah. Tahun lalu bahkan didapatkan 1.2 milyar rupiah.
Arum tanya aku, "kenapa papa nggak nyumbang?" Aku menjawab, "kalau kita nyumbang, nggak perlu orang lain tahu".
Walaupun hasilnya sangat baik, tapi aku merasa, ada unsur riya di dalamnya. Harusnya, jika tangan kanan kita memberi, tangan kiri kita tidak perlu mengetahuinya. Wallahualam.
Tapi, bagiku, ini merupakan gambaran kekuatan islam yang terpendam. Aku yakin banyak muslimin di seluruh Indonesia yang kaya raya, yang mau menyumbangkan hartanya untuk kemaslahatan umat. Wallahualam.
Yang menarik, ustad itu sempat bertanya, "bapak-bapak, ibu-ibu yang tahun lalu menyumbang untuk mesjid ini, apakah harta bapak-bapak, ibu-ibu ada yang berkurang?" dan semua jemaah menjawab tidak.
Acara pertama adalah sambutan dari ketua pembina mesjid. Sang ketua menceritakan latar belakang mesjid tersebut. Bahwa mesjid itu didirikan mulanya dari proses yang panjang, karena developer adalah non-muslim dan nampaknya sangat berat untuk memberikan tanah.
Acara kedua adalah penjelasan teknis yang ternyata berupa penggalangan dana untuk menyelesaikan mesjid itu oleh sang arsitek yang juga seorang ustad. Penggalangan dana dilakukan dengan paparan volume pekerjaan lantai, plafon dan cat, lalu para hadirin "ditantang" untuk memberikan komitmen, dalam satuan meter pekerjaan, sekecil apapun itu. Beberapa orang yang memang terkenal sangat kaya bahkan ditawarin untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan lantai. Hasilnya, 3 orang sekaligus bersedia menanggung pekerjaan lantai sebesar 450 juta. Sedangkan, pekerjaan plafon dan cat dibagi kepada jamaah dengan variasi jumlah komitmen. Menakjubkan, dalam 45 menit, berhasil didapatkan komitmen sebesar 725 juta rupiah. Tahun lalu bahkan didapatkan 1.2 milyar rupiah.
Arum tanya aku, "kenapa papa nggak nyumbang?" Aku menjawab, "kalau kita nyumbang, nggak perlu orang lain tahu".
Walaupun hasilnya sangat baik, tapi aku merasa, ada unsur riya di dalamnya. Harusnya, jika tangan kanan kita memberi, tangan kiri kita tidak perlu mengetahuinya. Wallahualam.
Tapi, bagiku, ini merupakan gambaran kekuatan islam yang terpendam. Aku yakin banyak muslimin di seluruh Indonesia yang kaya raya, yang mau menyumbangkan hartanya untuk kemaslahatan umat. Wallahualam.
Yang menarik, ustad itu sempat bertanya, "bapak-bapak, ibu-ibu yang tahun lalu menyumbang untuk mesjid ini, apakah harta bapak-bapak, ibu-ibu ada yang berkurang?" dan semua jemaah menjawab tidak.
Tuesday, September 28, 2010
Crew-ku

Sebagai pimpinan di lapangan, aku dihadapkan pada berbagai macam jenis dan tingkah laku crew-ku.
Ada yang sangat berpengalaman, cukup rajin, suka mengajari, tapi sering meremehkan pekerjaan.
Ada yang rajin, cukup pintar, nggak suka membantah, tapi pendiam.
Ada yang kecil, rajin, penurut, tapi nggak terlalu pintar.
Ada yang pengalaman, pintar, suka bergaul, tapi malah jadi arogan dan suka membantah.
Ada juga yang rajin, kuat, cukup pintar, tekun, tapi kadang-kadang suka melanggar aturan keselamatan.
Memang nggak ada yang sempurna, karena manusia tidak ada yang sempurna. Tapi sebagai pimpinan, aku bukannya berhak mendapatkan crew yang sempurna, tapi aku berkewajiban untuk tahu kekurangan dan kelemahan crew-ku dan mengatur agar masing-masing crew bisa mengisi kekurangan yang lain.
Sebagai pimpinan, aku juga harus sadar kalau aku pun masih harus terus belajar dan tetap terbuka terhadap masukan dari semua pihak, termasuk dari crew-ku yang paling sedikit pengalamannya sekalipun.
Wednesday, September 22, 2010
Kemping...
Awal juli 2010
Arum sangat antusias dengan rencana kami, apalagi Iki dan Edo, sepupunya Arum. Malam ini kami rencananya akan kemping di pantai.
Walau arum awalnya takut, tapi ternyata dialah yang akhirnya paling antusias.
Sejak pagi aku sudah menyiapkan segala sesuatunya, makanan, minuman dan tenda.
Jam 2 siang mulailah kami pergi menjemput 2 ponakanku sekalian mengambil tambahan perlengkapan di rumah mertuaku. Jam 3 kami sudah siap berangkat ke pantai. Di jalan, aku singgah untuk membeli singkong.
Rencanaku adalah, kami kemping di pantai, membuat api unggun, masak mie untuk makan malam, bakar singkong, mencari bintang jatuh, dan tidur di dalam tenda sampai pagi. Aku ingin anak-anakku bisa mendapatkan pengalaman sekaligus petualangan outdoor. Bukan hanya bermain-main di mall.
Setelah meninjau pantai Manggar, akhirnya aku putuskan kemping di pantai Lamaru, sekitar 5 km dari pantai Manggar, karena aku merasa pantai Lamaru lebih bersih dan lebih aman.
Sesampainya di pantai Lamaru, aku biarkan anak-anak main di pantai dulu. Sementara aku melihat-lihat kondisi sekaligus mencari tempat untuk mendirikan tenda. Sekalian juga mencari informasi, apakah keadaannya aman untuk berkemah dari para penjual makanan dì pantai itu. Ternyata, menurut penjual es kelapa muda, di sana sangat aman, tidak pernah ada kejadian apa-apa.
Setelah yakin aman, aku langsung mempersiapkan tempat mendirikan tenda dan mulai mengumpulkan kayu bakar.
Jam setengah enam, kupanggil anak-anak untuk segera mandi dan bersiap-siap mendirikan tenda. Sialnya, ternyata para pejaga kamar mandi umum sudah pada pulang. Terpaksa aku ajak anak-anak mandi dari sumur penduduk.
Selesai mandi, aku ajak mereka mengumpulkan kayu bakar. Lalu aku mendirikan tenda dan mulai membuat api unggun. Ternyata, membuat api unggun tidak semudah yg kubayangkan. Walaupun akhirnya jadi juga api unggunnya, tapi aku harus mencari cara lagi untuk mengatur api itu agar bisa buat memasak. Karena anak-anak sudah kelaparan, mereka akhirnya memakan roti yang disiapkan istriku.
Akhirnya, jadi juga tungku sederhana buatanku. Segera kumasak kornet dan indomie untuk makan malam. Untungnya lagi, ibunya Edo membawakan kami nasi. Jadilah makan malam kami, nasi + indomie + kornet ala chef papa. Anak-anak makan cukup lahap.
Acara selanjutnya, bakar singkong. Tanpa dikupas, aku masukkan singkong ke perapian, dan dalam keadaan masih panas dan terbungkus arang, kukupas dan kami makan.
Jam 8 malam, istriku nelpon dan nangis-nangis. Dia menyuruh kami pulang, alasannya katanya sering ada orang mabuk yang suka mengganggu orang yang kemping di situ.
Kulihat kondisinya memang kurang pas. Selain cuman kami yang berkemah, bulan juga sedang tidak bersinar, dan kami tidak membawa lentera, jadi gelap banget.
Waktu kuputuskan untuk pulang, Arum nangis, dia maunya sampai pagi. Aku bujuk dia, aku janji lain kali pasti kita kemping lagi.
Agar tidak terlalu kecewa, pulangnya kami singgah ke pasar malam dadakan. Disana kami bermain 2 wahana, yang ternyata cukup mengobati kekecewaan mereka.
Arum sangat antusias dengan rencana kami, apalagi Iki dan Edo, sepupunya Arum. Malam ini kami rencananya akan kemping di pantai.
Walau arum awalnya takut, tapi ternyata dialah yang akhirnya paling antusias.
Sejak pagi aku sudah menyiapkan segala sesuatunya, makanan, minuman dan tenda.
Jam 2 siang mulailah kami pergi menjemput 2 ponakanku sekalian mengambil tambahan perlengkapan di rumah mertuaku. Jam 3 kami sudah siap berangkat ke pantai. Di jalan, aku singgah untuk membeli singkong.
Rencanaku adalah, kami kemping di pantai, membuat api unggun, masak mie untuk makan malam, bakar singkong, mencari bintang jatuh, dan tidur di dalam tenda sampai pagi. Aku ingin anak-anakku bisa mendapatkan pengalaman sekaligus petualangan outdoor. Bukan hanya bermain-main di mall.
Setelah meninjau pantai Manggar, akhirnya aku putuskan kemping di pantai Lamaru, sekitar 5 km dari pantai Manggar, karena aku merasa pantai Lamaru lebih bersih dan lebih aman.
Sesampainya di pantai Lamaru, aku biarkan anak-anak main di pantai dulu. Sementara aku melihat-lihat kondisi sekaligus mencari tempat untuk mendirikan tenda. Sekalian juga mencari informasi, apakah keadaannya aman untuk berkemah dari para penjual makanan dì pantai itu. Ternyata, menurut penjual es kelapa muda, di sana sangat aman, tidak pernah ada kejadian apa-apa.
Setelah yakin aman, aku langsung mempersiapkan tempat mendirikan tenda dan mulai mengumpulkan kayu bakar.
Jam setengah enam, kupanggil anak-anak untuk segera mandi dan bersiap-siap mendirikan tenda. Sialnya, ternyata para pejaga kamar mandi umum sudah pada pulang. Terpaksa aku ajak anak-anak mandi dari sumur penduduk.
Selesai mandi, aku ajak mereka mengumpulkan kayu bakar. Lalu aku mendirikan tenda dan mulai membuat api unggun. Ternyata, membuat api unggun tidak semudah yg kubayangkan. Walaupun akhirnya jadi juga api unggunnya, tapi aku harus mencari cara lagi untuk mengatur api itu agar bisa buat memasak. Karena anak-anak sudah kelaparan, mereka akhirnya memakan roti yang disiapkan istriku.
Akhirnya, jadi juga tungku sederhana buatanku. Segera kumasak kornet dan indomie untuk makan malam. Untungnya lagi, ibunya Edo membawakan kami nasi. Jadilah makan malam kami, nasi + indomie + kornet ala chef papa. Anak-anak makan cukup lahap.
Acara selanjutnya, bakar singkong. Tanpa dikupas, aku masukkan singkong ke perapian, dan dalam keadaan masih panas dan terbungkus arang, kukupas dan kami makan.
Jam 8 malam, istriku nelpon dan nangis-nangis. Dia menyuruh kami pulang, alasannya katanya sering ada orang mabuk yang suka mengganggu orang yang kemping di situ.
Kulihat kondisinya memang kurang pas. Selain cuman kami yang berkemah, bulan juga sedang tidak bersinar, dan kami tidak membawa lentera, jadi gelap banget.
Waktu kuputuskan untuk pulang, Arum nangis, dia maunya sampai pagi. Aku bujuk dia, aku janji lain kali pasti kita kemping lagi.
Agar tidak terlalu kecewa, pulangnya kami singgah ke pasar malam dadakan. Disana kami bermain 2 wahana, yang ternyata cukup mengobati kekecewaan mereka.
Thursday, September 9, 2010
Idul Fitri 1431 H (10 Sept 2010)
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa berlebaran dengan keluarga.
Alhamdulillah, ramadhan tahun ini lebih banyak ibadah sunnah yang kukerjakan.
Alhamdulillah, Arum tahun ini sudah berpuasa sehari penuh, cuma 2 hari aja puasanya pecah.
Mudah-mudahan aku masih dipanjangkan umur hingga lebaran mendatang.
Mudah-mudahan ramadhan tahun depan ibadahku lebih baik.
Mudah-mudahan tahun depan Arum bisa berpuasa sebulan penuh.
Alhamdulillah, ramadhan tahun ini lebih banyak ibadah sunnah yang kukerjakan.
Alhamdulillah, Arum tahun ini sudah berpuasa sehari penuh, cuma 2 hari aja puasanya pecah.
Mudah-mudahan aku masih dipanjangkan umur hingga lebaran mendatang.
Mudah-mudahan ramadhan tahun depan ibadahku lebih baik.
Mudah-mudahan tahun depan Arum bisa berpuasa sebulan penuh.
Sunday, August 29, 2010
Lelaki sejati
Pria bukan dianggap jantan karena bisa meniduri atau menghamili seorang gadis. Bahkan jika akhirnya dia bersedia menikahi gadis itu. Tapi pria jantan yang sejati adalah pria yang bisa menjaga kehormatan wanita, dimanapun, kapanpun dan siapapun wanita itu.
Muak aku ngeliat para laki-laki yang nggak bertanggung jawab itu. Malah bangga dengan kelakuannya.
Ya Allah, jauhkanlah anakku dari jenis laki-laki yang begitu.
Muak aku ngeliat para laki-laki yang nggak bertanggung jawab itu. Malah bangga dengan kelakuannya.
Ya Allah, jauhkanlah anakku dari jenis laki-laki yang begitu.
Tuesday, July 27, 2010
Berlari kecil
Setiap kali, sejak Arum masuk TK, melihat dia berlari-lari kecil masuk ke gerbang sekolah dan tempat kursus, ada keharuan dan kebanggaan dalam hatiku. Terharu karena dia tumbuh jadi anak yang sehat dan pintar, bangga karena dia begitu bersemangat bersekolah dan menuntut ilmu.
Aku cuma bisa mengucapkan, alhamdulillah dan allahuakbar.
Aku cuma bisa mengucapkan, alhamdulillah dan allahuakbar.
Subscribe to:
Posts (Atom)