Showing posts with label Singapore. Show all posts
Showing posts with label Singapore. Show all posts

Wednesday, February 9, 2011

Singapore, again..


Setelah tahun lalu kami liburan ke Singapur, tahun ini kami pergi liburan lagi ke Singapur. Kenapa kok sepertinya kami senang ke Singapur? Pertama, karena memang kota Singapur itu menyenangkan, bersih tertib dan banyak objek wisata. Kedua, karena pertengahan tahun lalu istriku dapat tiket murah banget. Istriku dapat tiket Bpn-Sing dengan Mandala cuman 150 ribu rupiah perorang. Apa nggak murah banget tuh. Ketiga, karena ada beberapa objek wisata yang belum jadi dan belum sempat kami kunjungi tahun lalu, yaitu Universal Studio Singapore dan Marina Bay Sands.
Tapi tanpa diduga sebelumnya, terjadi masalah dengan Mandala Air, 2 minggu sebelum kami berangkat, Mandala mengumumkan bahwa mereka tidak akan terbang lagi. Mulanya kami sempat panik. Akhirnya dengan bantuan seorang teman, malam itu juga kami dapat tiket lagi dengan Lion Air, Bpn-Jkt-Sing dengan harga 2.6 jutaan. Soalnya kalau mau dibatalin, kami malah rugi lebih banyak dengan tiket lain yang sudah kami beli untuk pulang dari Singapur.
Aku bukannya sombong atau pamer bisa jalan-jalan ke Singapur sampai 2 kali. Tapi memang karena anak istriku berhak mendapatkan liburan karena sudah menjadi anak dan istri yang baik selama ini. Lagian, bagi orang Indonesia jalan-jalan ke Singapur sebenarnya bukan hal yang mewah lagi. Dari Jakarta aja tiket ke Singapur rata-rata cuman 500 ribuan. Apalagi sekarang sudah tidak ada fiskal lagi, tambah gampang deh kalau ke Singapur.

Monday, January 31, 2011

30 jan




30 Januari 2011

Karena target utama yaitu Universal Studio dan Marina Bay Sands sudah kami datangi, jadi hari ini agak bebas, nggak ada target khusus. Kami memutuskan hari ini mau ke Sentosa Island, di sana ada patung Merlion besar, ada Ludge, ada pantainya yang bersih dan ada juga wahana seperti Sea World di jakarta. Tahun lalu sih sudah kesana, tapi tempatnya yang luas dan banyak tujuan wisata membuat kami merasa nggak ada ruginya kalau kesana lagi.
Sesampainya di Vivo City Mall, hujan deras, sebenarnya dari hotel kita berangkat memang sudah hujan, tapi nggak nyangka aja hujan masih berlanjut. Walaupun sebenarnya ada monorail menuju Sentosa Island, tapi tetap aja di sana bakal kehujanan. Akhirnya kami mutar-mutar dan liat-liat di Vivo City Mall aja. Sekalian istriku mau shopping juga, siapa tahu ada yang murah.
Istriku nggak beli apa-apa, pas waktunya makan siang kami makan siang di food court-nya yang namanya Banquet. Ternyata Banquet ini merupakan food court khusus makanan halal, betapa girangnya kami. Selain halal, murah pilihannya banyak lagi. Ada masakan padang, masakan melayu, cina, india/arab dan barat.
Arum seperti biasa makan Chiken Rice, sedangkan aku mencoba makan laksa. Laksa disini kita memilih sendiri jenis lauk yang mau direbus, ada berbagai jenis sayur, jamur, tahu dan siomay. Cukup murah, dengan minimal S$ 4, kita bisa dapat semangkuk laksa lezat. Aku punya prinsip, kalau pergi ke suatu tempat, jangan ragu mencoba berbagai jenis makanan, asal masih halal. Tahun lalu di Singapur juga, kami nekat nyoba makan di rumah makan arab. Hasilnya, makanan nggak habis karena porsinya yang kebanyakan dan rasanya yang terlalu kuat. Tahun ini, karena malas nyoba makanan lain, istriku ada beli ayam penyet yang dekat hotel, ternyata rasanya jauh banget dengan ayam penyet yang biasa kami beli di Indonesia. Lagian kupikir, ngapain kita pergi jauh-jauh kalau akhirnya makan makanan Indonesia juga.
Selesai makan, kami pergi ke Sentosa Board Walk yang baru dibuka sehari sebelumnya. Sentosa Board Walk ini adalah jembatan khusus pejalan kaki yang menghubungkan main land (Vivo City Mall) dengan pulau Sentosa (Resort World Sentosa) sepanjang kurang lebih 600 meter. Yang menarik, sepanjang jembatan ini dibuat sangat rapi, bersih, asri dan indah. Tidak seperti jembatan pejalan kaki biasa, disini juga disediakan tangga berjalan seperti yang ada di bandara-bandara. Disetiap sisinya penuh dengan taman, bahkan ada 4 bagian dengan temanya masing-masing. Di satu bagian malah ada toko souvenirnya. Jadi selain dengan bis atau monorail, kita juga bisa berjalan kaki sekarang menuju Sentosa Island.

Di Resort World Sentosa, kami beli coklat dan permen lagi buat oleh-oleh. Selanjutnya kami pake bis ke Vivo City dan dilanjutkan dengan MRT pulang ke hotel.
Sorenya aku nyempetin beli oleh-oleh di bugis street, cuma kaos yang S$ 10 dapat 3 biar murah meriah.
Jam 6 sore kami keluar lagi ke Vivo City, rencananya malam ini mau nonton dancing crane yang jadwalnya jam 8. Sesampainya di Vivo City kita makan malam dulu di Banquet lagi, bakal jadi favorit keluarga nih. Setelah makan kami bersiap-siap mau ke Resort World Sentosa untuk lihat dancing crane. Ternyata diluar masih hujan, Arum dan istriku sudah patah semangat, akhirnya kami bilang aja ke Arum kalau hujan, dancing crane-nya nggak ada. Untungnya Arum nggak terlalu kecewa. Akhirnya kami menemani istriku aja beli baju di mal itu. Tapi waktu jam 8 kurang 7 menit-an, aku timbang-timbang lagi, karena istriku kayaknya bakal lama milih-milih, aku mengajak Arum untuk mencoba melihat Dancing Crane dari mal, seberangnya Resort World Sentosa. Setelah di luar, masih hujan, aku ngajak Arum jalan lewat Sentosa Board Walk, maksudnya sih biar nggak langsung paling nggak bisa lihat lebih dekat. Tapi makin jauh kita jalan, belum mulai juga Dancing Crane-nya. Setelah kurang dari 3 menit-an, Dancing Crane-nya mulai, sekalian aja kami nonton langsung di tempatnya. Setelah lari sedikit, akhirnya kami sampai, dan kami hampir nggak ketinggalan sama sekali.
Dancing Crane ini berupa pertunjukan 2 buah alat mekanis berukuran tinggi total sekitar 15 meter yang mirip badan-leher dan kepala burung bangau, didadanya ada layar LED dan sayapnya berupa semprotan air, yang menari seolah-olah 2 ekor burung bangau raksasa. Walaupun cuma 10 menit, tapi pertunjukannya sangat indah, dengan tambahan permainan cahaya lampu dan gambar bergerak di dada crane itu. Ceritanya ada 2 burung bangau yang bertemu, saling jatuh cinta dan akhirnya terbang bersama-sama.
Sangat indah sekali, nggak sia-sia kami sampai lari-lari dan nonton berhujan-hujanan. Arum kulihat sangat puas sekali. Betapa bahagianya aku bisa membahagiakan anakku ini dan bisa memberikan dia pengalaman yang sangat menakjubkan ini.
Sebelum pulang dari Vivo City, kami sempat beli 3 lukisan cina yang sederhana tapi sangat bangus seharga S$25. Rencananya sih mau di bingkai dan dipajang di rumah. Kami keluar dari Vivo City Mal hampir jam setengah sebelas, nggak papa, karena ini malam terakhir kami.

27 jan


27 Januari 2011

Kami berangkat dari Balikpapan jam 10 pagi, sampai di Jakarta jam 11-an. Rencananya kami mau nunggu di lounge yang ada di bandara Soetta sambil nunggu pesawat ke Singapur jam 17:00. Tapi ternyata kami baru bisa check in 2 jam sebelum jam keberangkatan, jadinya kami makan di Hoka-Hoka Bento sambil nunggu waktu check in.
Pesawat kami sampai Singapur jam 19:05, setelah melewati imigrasi dan pengambilan barang, kami antri untuk taksi sampai jam 8-an malam. Di imigrasi Singapur, banyak banget orang Indonesia. Nampaknya, memang sudah lumrah orang Indonesia yang ke Singapur.
Di taksi menuju hotel, sempet heran juga waktu aku cuman bilang hotel Fragrance Bugis dan supirnya tidak tahu pasti tempatnya. Sialnya aku juga tidak punya alamat lengkapnya seperti yang diminta si supir taksi. Dia menyarankan, lain kali kita harus punya alamat lengkap suatu tempat kalau mau naik taksi, karena semua taksi menggunakan GPS dan sangat mengandalkan alat tersebut. Kecuali kita mendatangi tempat yang sudah sangat terkenal. Tapi alhamdulillah, kami sampai juga ke hotel tanpa terlalu memutar-mutar.
Tarif Hotel Fragrance Bugis S$ 149, untuk kamar ukuran standar dengan single bed. Ukuran kamarnya kecil banget, cuman cukup untuk bed ukuran queen, lemari kecil dan kamar mandinya pun kecil. Memang hotel di Singapur termasuk yang paling mahal di Asia. Tapi prinsipnya, kita kan mau jalan-jalan, jadi cuman perlu kamar buat tidur dan istirahat.
Tapi hotel Fragrance Bugis ini menurutku sangat strategis, sekitar 200 meter jalan, kita sudah bisa menemukan tempat makan yang Halal, namanya Tong Seng, menu yang umum disini adalah Chiken Rice yang kebetulan merupakan kegemaran Arum. Rata-rata harga makanan disini harganya S$ 3, cukup murah. Berjarak 1 warung dari Tong Seng ini ada juga rumah makan halal yang menjual makanan arab, India dan Ayam Penyet Indonesia.

Di seberang jalan langsung ada Bugis Junction, sebuah mal cukup lengkap yang suasanya menurutku mirip mal Paris van Java di Bandung. Di seberangnya lagi ada Bugis Street, sebuah pasar yang banyak menjual souvenir dan baju-baju dengan aneka model. Sangat strategis, apalagi MRT station ada di bawah Bugis Junction ini, sekitar 500 meter dari hotel Fragrance Bugis. Sangat direkomendasikan.
Setelah melihat-lihat situasi di Bugis Street, kami kembali ke hotel untuk istirahat, karena selain sudah capek, kami juga harus menyiapkan tenaga untuk ke Universal Studio Singapore besok paginya.

Wednesday, February 3, 2010

Holiday info

Singapura sangat mendukung pariwisatanya. Dari saat pertama tiba di bandara, kita sudah bisa menemukan brosur-brosur lengkap semua tempat wisata utama, termasuk juga buku panduan yang mencakup keseluruhannya.
Dengan dukungan transportasi MRT yang terintregasi, kemana pun kita akan pergi, dengan sedikit bertanya, akan menjadi sangat mudah. Aku aja yang baru pertama kali kesana, dengan sedikit bertanya, tidak mengalami kesulitan untuk kemana-mana. Bayangkan, untuk ke Sentosa Island, hanya peqlu waktu ± 20 menit dari tempatku menginap. Di tempat wisata itupun, semua pengunjung bisa mendapatkan kemudahan.
Mungkinkah kita bisa menirunya? Faktor bahwa singapura merupakan negara kecil menjadi hal yang penting. Sedangkan indonesia, negara besar dengan tempat wisata yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.
Tapi intinya, harus ada informasi yang jelas dan lengkap kepada semua calon wisatawan. Walaupun sebenarnya ada juga faktor kenyamanan dan keamanan yang mendukung.