Showing posts with label Princess. Show all posts
Showing posts with label Princess. Show all posts

Wednesday, December 9, 2009

untuk anakku tersayang

untuk anakku, jika kau dewasa nanti, berhati-hatilah dalam memilih teman lelaki. Karena papa tau, banyak sekali jenis laki-laki di dunia ini.
Ada lelaki yang mementingkan fisik dan penampilan saja. Termasuk penampilan tunggangan dan barang yg menempel di badan mereka.
Ada juga yang hobinya mendekati wanita dengan segala upaya dan pesona yang mereka punya. Tapi setelah mendapatkan yang mereka mau, wanita itu ditinggalkan, dibiarkan jatuh dalam penyesalan.
Ada juga laki-laki yang memandang rendah wanita dengan penampilan yang biasa-biasa saja. Dan memasang target tinggi wanita yang menjadi pasangannya, hingga ia terpesona dalam kecantikan dan keindahan duniawi saja. Lupa bahwa kecantikan yang sejati, hanya bisa dilihat oleh mata hati yang bersih saja.
Memang manusia tak ada yang sempurna. Tapi papa harap, kamu bisa memilih lelaki yang rajin sholat dan membawa sholat itu dalam tindakannya. Lelaki yang lebih mementingkan ilmu dan ibadah daripada penampilan duniawi. Dan lelaki yang kau pandang tampan, hanya jika kau memandangnya dengan mata iman dan takwa.

Thursday, December 3, 2009

Arum dan pingpong

Secara mengejutkan, Arum meminta ijin padaku minggu lalu.
"Pa, boleh nggak Arum ikut latihan pingpong setiap senin pulang sekolah, Pa?" tanyanya.
Walau sempat kaget atas pilihannya, aku bilang "boleh aja".
Dan waktu hari senin kemaren aku jemput dia pulang sekolah, aku kaget, ternyata dia serius mau latihan pingpong. Dari raut mukanya aku tau dia serius, dan dia nggak mau niatnya dihalangi. Akhirnya aku biarkan dia ikut latihan pingpong sampai jam setengah empat sore.
Pulang latihan, aku yakinkan dia,
"Arum boleh ikut latihan pingpong, tapi Arum harus janji kalau Arum akan terus latihan. Karena olahraga itu bagus. Kalau mau, nanti papa belikan bet pingpong buat Arum."
"Iya Pa", cuman itu yang dia ucapkan.
Aku sempat bersyukur ternyata dia berani mengambil pilihan yang agak tidak biasa. Karena selain badannya yang masih mungil untuk ukuran meja pingpong itu sendiri, teman latihannya yang tidak banyak itupun cowok semua. Mungkin konsekwensi dari didikan kami yang selalu membiarkan dia memilih untuk dirinya sendiri, tapi harus mau mengambil resiko pilihannya itu. Dia cuma sempat mengeluh bahwa teman latihannya agak pelit meminjamkan bet pingpong, makanya aku berniat membelikannya pingpong.
Kemarin malam, sesuai janjiku, aku ajak dia membeli bet pingpong. Di toko pertama, dia sudah menjatuhkan pilihan pada sepasang bet yang harganya 88 ribu. Entah mengapa, dia ngotot mau beli sepasang bet itu. Hingga di toko yang kedua dan ketiga, dia tetap ngotot mau beli bet yang pertama itu. Di toko ketiga, aku marah besar, saran kami untuk membeli bet lain yang malah lebih mahal ditolaknya. Aku tidak tau alasannya memilih sepasang bet itu, hingga pilihan yng lain di toko yanglain bahkan tidak diliriknya. Aku jelaskan, dengan marah, bahwa maksud mencari ke toko lain, agar kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah untuk barang yang lebih baik.
Saat dia menangis, aku baru sadar, tapi dia sudah terlanjur patah semangat. Hingga walau aku setuju membelikan bet pilihannya pun, dia sudah tidak mau lagi.
Hingga kini aku masih kepikiran. Aku takut dia shock atas kemarahanku. Aku takut dia tidak mau meneruskan latihan pingpong lagi. Aku takut, dia tidak akan berani mengambil tantangan baru seperti latihan pingpong tadi.
Maafin papa sayang.