Novel "What Dreams May Come"
Chriss, seorang ayah dari 4 anak, meninggal dalam suatu kecelakaan. Bagian awal novel ini, dari sudut pandang Chriss, menceritakan proses dan pengalaman Chriss yang melalui saat-saat dia baru meninggal, saat dia menghadiri pemakamannya hingga saat dia bisa menerima bahwa dia sudah meninggal. Menarik juga bagaimana penggambaran pengalaman dan sensasi saat-saat baru meninggal hingga saatnya dia pergi ke tahap berikutnya. Termasuk pergolakan batin yang hancur melihat kesedihan keluarga yang ditinggalkannya. Kita akan terbawa, merasa, bahwa memang beginilah yang akan terjadi jika kita meninggal.
Bagian berikutnya, kita akan dibawa pada perkenalan Chriss dengan Albert di Summerland, seorang kerabatnya yang lebih dulu meninggal untuk memperkenalkannya dengan tempat barunya itu. Tempat yang dinamakan "Summerland". Sebuah tempat sempurna dimana semua orang baik akan pergi setelah meninggal. Albert inilah yang menjadi semacam malaikat pelindung bagi Chriss yang menjelaskan semua hal di Summerland, termasuk aktifitas-aktifitas yang terjadi di sana. Menariknya, novel ini menggambarkan tempat ini, tanpa ada pretensi yang menunjukan, agama mana yang lebih benar. Sebenarnya, hampir tak sekalipun disebutkan, bahwa "Summerland" adalah surga yang kita kenal selama ini.
Digambarkan bahwa Summerland adalah tempat yang indah, damai dan tenang. Semua penghuninya bisa melakukan apapun yang dia inginkan hampir tanpa ada batasan. Di Summerland inilah dia akan berada hingga pada saatnya nanti dia bergabung dengan orang yang dicintainya untuk selamanya.
Hingga tidak lama kemudian, dia mendapat berita bahwa istrinya tercinta, meninggal karena kelebihan dosis obat tidur. Karena dianggap sebagai bunuh diri, maka istrinya harus tinggal di "Underworld" lebih dulu. Hingga waktunya dia ke Summerland tiba.
Chriss merasa ada yang salah, dia menganggap, istrinya melakukan itu karena depresi berat setelah Chriss meninggal. Hal ini dikarenakan ikatan dan cinta yang sangat kuat diantara mereka. Chriss menganggap istrinya tidak pantas berada di Underworld, dan dia bertekad menyebrang ke Underworld untuk menjemput istrinya tersebut.
Bagian berikutnya, kita akan dibawa mengikuti perjuangan Chriss menyeberang ke Underworld. Underworld digambarkan sebagai kebalikan dari Summerland. Bukan seperti neraka yang kita bayangkan selama ini. Tapi memang tidak pernah disebutkan di novel ini bahwa itu neraka.
Membaca novel ini membuka pikiran kita bahwa kehidupan setelah kematian itu memang ada. Penulisan novel ini memang disertai dengan riset yang panjang, ditunjukan dengan banyaknya daftar pustaka acuan di akhir buku. Sesuatu yang jarang sekali ada pada sebuah novel fiksi.
Satu kalimat penutup yang sangat menyentuh; "jika memang semua yang ada di cerita ini nyata, maka kita harus mulai memperhatikan semua tindakan kita, dari sekarang".
Buah Pikiran dan Tulisan, Pesan untuk buah hatiku... Arumdapta dan Altaf
Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts
Saturday, October 24, 2009
The Alchemyst
The Alchemyst, The Secret of Immortal Nicholas Flamel
by Nicholas Scott
Butuh kurang dari 5 hari, di sela-sela perjalanan dari Sei Meriam ke sumur untuk aku menyelesaikan membaca novel ini. Walaupun tebalnya lebih dari 400 halaman, tapi font-nya besar-besar. Dan yang terutama, ceritanya memang seru.
Cerita langsung diawali dengan konfrontasi sihir antara Nicholas Flamel dan Dr. John Dee, 2 manusia abadi yang berseteru, di toko buku kecil milik Flamel. Tujuan utama Dee adalah buku Abraham The Mage (Codex) yang dimiliki oleh Flamel, buku yang berisi formula untuk hidup abadi. Dee juga adalah bawahan para Tetua, yang merasa terancam dengan adanya buku ini.
Josh Newman yang bekerja di toko buku ini secara kebetulan, atau mungkin takdir, terlibat dalam konfrontasi ini. Sedangkan saudari kembarnya, Sophie, yang bekerja di kedai kopi di seberang toko buku Flamel, juga ikut terseret. elain karena ingin menolong Josh, juga karena begitulah seolah begitulah takdirnya.
Flamel, Josh dan Sophie berhasil selamat, tapi Perrenelle, istri Flamel, tertangkap. Dan Codex pun berhasil dirampas oleh Dee, setelah sebelumnya tanpa sepengetahuan Dee, 2 halamannya terpentingnya berhasil direnggut Josh. Setelah mengetahui ada 2 halaman yang hilang, Dee kembali memburu Flamel, Josh dan Sophie. Mereka bertiga pergi minta pertolongan Scatty, sang Petarung, salah satu Tetua generasi berikutnya yang memiliki kemampuan bertarung. Flamel menduga, bahwa si kembar inilah yang disebutkan dalam ramalan Codex akan menyelamatkan dunia dari kehancuran oleh para Tetua jahat.
Dengan tambahan Scatty, mereka pergi ke Hekate, dewi berwajah tiga untuk membangkitkan kemampuan sihir si kembar yang terpendam. Hekate baru sedang membangkitkan kekuatan sihir Sophie ketika kediamannya diserang oleh Morrigan dan Bastet beserta pasukan gagak dan pasukan kucingnya. Setelah lolos dari serangan ini, mereka berempat kembali lari menuju penyihir Andor untuk minta mengajarkan Sophie sihir unsur udara. Josh, yang belum sempat terbangkitkan kemampuan sihirnya, menjadi sasaran provokasi Dee untuk beralih pihak.
Alur novel ini memang cepat, dari serangan satu ke serangan yang lain, digambarkan begitu intens sehingga sulit melepaskan buku ini sampai selesai. Scott menggabungkan berbagai unsur mitos dan mitologi barat dengan plot cerita modern. Aku yang orang Asia bisa lebih mengenal sosok-sosok dalam mitologi barat. Tapi sayang, sepertinya Scott terlalu banyak mencampurkan unsur mitologi barat, sehingga seakan-akan semua yang terjadi di mitos barat berkaitan dengan alur cerita ini.
Satu hal yang aku kurang suka, membaca novel ini seakan kita membaca sebuah skenario film. Seolah Scott menyiapkan novel ini untuk dibeli dan difilmkan. Sehingga unsur-unsur exclusive novel yang tidak bisa ditangkap medium film hampir hilang. Inilah yang banyak terjadi pada novel-novel pop dewasa ini.
Tapi, sebagai bacaan dan cerita, novel ini sangat menghibur. Kita akan lihat bagaimana lanjutan ceritanya dalam The Magician.
by Nicholas Scott
Butuh kurang dari 5 hari, di sela-sela perjalanan dari Sei Meriam ke sumur untuk aku menyelesaikan membaca novel ini. Walaupun tebalnya lebih dari 400 halaman, tapi font-nya besar-besar. Dan yang terutama, ceritanya memang seru.
Cerita langsung diawali dengan konfrontasi sihir antara Nicholas Flamel dan Dr. John Dee, 2 manusia abadi yang berseteru, di toko buku kecil milik Flamel. Tujuan utama Dee adalah buku Abraham The Mage (Codex) yang dimiliki oleh Flamel, buku yang berisi formula untuk hidup abadi. Dee juga adalah bawahan para Tetua, yang merasa terancam dengan adanya buku ini.
Josh Newman yang bekerja di toko buku ini secara kebetulan, atau mungkin takdir, terlibat dalam konfrontasi ini. Sedangkan saudari kembarnya, Sophie, yang bekerja di kedai kopi di seberang toko buku Flamel, juga ikut terseret. elain karena ingin menolong Josh, juga karena begitulah seolah begitulah takdirnya.
Flamel, Josh dan Sophie berhasil selamat, tapi Perrenelle, istri Flamel, tertangkap. Dan Codex pun berhasil dirampas oleh Dee, setelah sebelumnya tanpa sepengetahuan Dee, 2 halamannya terpentingnya berhasil direnggut Josh. Setelah mengetahui ada 2 halaman yang hilang, Dee kembali memburu Flamel, Josh dan Sophie. Mereka bertiga pergi minta pertolongan Scatty, sang Petarung, salah satu Tetua generasi berikutnya yang memiliki kemampuan bertarung. Flamel menduga, bahwa si kembar inilah yang disebutkan dalam ramalan Codex akan menyelamatkan dunia dari kehancuran oleh para Tetua jahat.
Dengan tambahan Scatty, mereka pergi ke Hekate, dewi berwajah tiga untuk membangkitkan kemampuan sihir si kembar yang terpendam. Hekate baru sedang membangkitkan kekuatan sihir Sophie ketika kediamannya diserang oleh Morrigan dan Bastet beserta pasukan gagak dan pasukan kucingnya. Setelah lolos dari serangan ini, mereka berempat kembali lari menuju penyihir Andor untuk minta mengajarkan Sophie sihir unsur udara. Josh, yang belum sempat terbangkitkan kemampuan sihirnya, menjadi sasaran provokasi Dee untuk beralih pihak.
Alur novel ini memang cepat, dari serangan satu ke serangan yang lain, digambarkan begitu intens sehingga sulit melepaskan buku ini sampai selesai. Scott menggabungkan berbagai unsur mitos dan mitologi barat dengan plot cerita modern. Aku yang orang Asia bisa lebih mengenal sosok-sosok dalam mitologi barat. Tapi sayang, sepertinya Scott terlalu banyak mencampurkan unsur mitologi barat, sehingga seakan-akan semua yang terjadi di mitos barat berkaitan dengan alur cerita ini.
Satu hal yang aku kurang suka, membaca novel ini seakan kita membaca sebuah skenario film. Seolah Scott menyiapkan novel ini untuk dibeli dan difilmkan. Sehingga unsur-unsur exclusive novel yang tidak bisa ditangkap medium film hampir hilang. Inilah yang banyak terjadi pada novel-novel pop dewasa ini.
Tapi, sebagai bacaan dan cerita, novel ini sangat menghibur. Kita akan lihat bagaimana lanjutan ceritanya dalam The Magician.
Subscribe to:
Posts (Atom)