Menurutku, nggak ada tindakan yang paling tidak toleran dan paling bodoh daripada merokok.
Karena, tidak ada satupun perokok yang tidak tahu bahaya merokok. Padahal sudah jelas-jelas tertulis di bungkus rokok dan tidak ada satupun penelitian yang membuktikan sebaliknya.
Yang lucu, Kenapa juga asapnya dibuang lagi habis dihisap, kan rugi. Lebih baik ditelan dong.
Kalau ada alasan bahwa ada orang tua yg bisa hidup lama padahal dia perokok berat, maka akan kutantang. Kutantang dia untuk merokok 20 bungkus sehari sampai 10 tahun kedepan, dan kita lihat 10 tahun lagi. Dan kita lihat, siapa yang lebih kuat dan cepat jogging 10 kilometer.
Kalau ada alasan yang bukan perokok yang harus toleran, maka akan kutantang juga. Aku akan toleran sama perokok kalau dia bersedia merokok di ruangan tertutup dengan anak istrinya selama 4 jam aja setiap harinya.
Kenapa mereka nggak peduli kesehatan orang yang nggak mereka? Paling nggak, peduli kesehatan mereka sendiri.
Ketika aku posting di fesbuk, betapa aku benci rokok, ada yang bilang, "kalau rokok nggak laku, emang mau nanggung janda-janda dan ibu-ibu dan 4 anaknya yang bekerja di pabrik rokok?". Tahukah dia, siapa yang kaya dari pembelian rokok?
Yang ironis, ketika MUI hendak mengharamkan rokok, banyak sekali yang menentang. Alasannya sangat jelas, karena masih banyak ulama sendiri yg masih merokok.
Untuk anakku tersayang, kalau nanti kamu mencari suami, selain akhlaknya harus baik, papa juga minta, jangan yang perokok. Karena kalau dia nggak bisa menyayangi dirinya sendiri, bagaimana dia akan menyayangi kamu dan anakmu.
Yang jelas, banyak orang bisa sukses tanpa rokok.
Yang lebih jelas lagi, monyet aja nggak merokok.
Buah Pikiran dan Tulisan, Pesan untuk buah hatiku... Arumdapta dan Altaf
Saturday, October 10, 2009
Thursday, October 8, 2009
Hobiku
Salah satu hobiku adalah fotografi. Aku mulai senang fotografi sejak awal kuliah. Walau nggak punya kamera sendiri, hampir tiap bulan kami sering foto-fotoan 1 rol. Saat itu, aku pengen banget punya kamera SLR.
Alhamdulillah, sekitar 2 tahun-an lalu, istriku nyuruh beli kamera idamanku. Nyuruh, karena kalau aku sendiri masih merasa kamera itu mahal.
Tapi karena emang kami suka liburan, perlu banget ada kamera.
Sejak beli kamera itu, aku mulai belajar fotografi lagi dari awal. Alhamdulillah sekarang lumayan paham pengaturan manualnya. Kalau ada kesempatan, aku pengen ikut kursus fotografi.
Dalam fotografi, aku cenderung suka mengambil gambar orang. Aku seneng moto temen-temen dan keluargaku. Bagiku, moto orang, hasilnya jarang sama. Tiap sudut ekspresi, background dan pencahayaan memiliki keunikan tersendiri. Kalau moto temen, aku selalu sukarela. Bagiku, jika dia senang hasilnya, atau memasangnya di facebook, aku puas.
Karena terlalu sering moto, malah fotoku sendiri sangat jarang. Makanya aku beli tripod tahun lalu.
Sekarang obsesiku adalah, moto close up wajah semua temen dan keluargaku secara hitam putih.
Alhamdulillah, sekitar 2 tahun-an lalu, istriku nyuruh beli kamera idamanku. Nyuruh, karena kalau aku sendiri masih merasa kamera itu mahal.
Tapi karena emang kami suka liburan, perlu banget ada kamera.
Sejak beli kamera itu, aku mulai belajar fotografi lagi dari awal. Alhamdulillah sekarang lumayan paham pengaturan manualnya. Kalau ada kesempatan, aku pengen ikut kursus fotografi.
Dalam fotografi, aku cenderung suka mengambil gambar orang. Aku seneng moto temen-temen dan keluargaku. Bagiku, moto orang, hasilnya jarang sama. Tiap sudut ekspresi, background dan pencahayaan memiliki keunikan tersendiri. Kalau moto temen, aku selalu sukarela. Bagiku, jika dia senang hasilnya, atau memasangnya di facebook, aku puas.
Karena terlalu sering moto, malah fotoku sendiri sangat jarang. Makanya aku beli tripod tahun lalu.
Sekarang obsesiku adalah, moto close up wajah semua temen dan keluargaku secara hitam putih.
Wednesday, October 7, 2009
Sederhana
Aku tak punya baju selemari.
Jika aku beli baju baru, harus ada satu baju lama yang kuberikan.
Baju lebaranku tiap tahun, adalah baju yang kupakai waktu nikah 8 tahun lalu.
Sepatu yang kupunya, kubeli dengan diskon hampir setengahnya.
Jam tanganku, kubeli waktu kepepet 8 tahun lalu.
Handphoneku bukan yang termahal yang bisa kubeli.
Mobilku, malah sebenarnya bukan milikku.
Aku berusaha, berpakaian sesederhana mungkin. Berjalan dengan menurunkan dagu. Mengayunkan tangan sedekat mungkin dengan badanku.
Apakah aku sudah tampil sederhana? Seperti Nabi Muhammad, yang mencontohkan hidup sederhana.
Kurasa belum......
Aku masih tidur di kasur empuk, di kamar ber-AC dan rumah berdinding beton. Tidak seperti nabi, yang tidur di dipan keras dan rumah gubuk.
Aku masih lebih sering kenyang daripada lapar.
Aku masih belum bisa memberi milikku yang baru daripada milikku yang lama.
Dan aku masih sering menyombongkan yang kumiliki dan yang kumampu lakukan.
Ya nabi, betapa kami rindu bertemu denganmu.
Jika aku beli baju baru, harus ada satu baju lama yang kuberikan.
Baju lebaranku tiap tahun, adalah baju yang kupakai waktu nikah 8 tahun lalu.
Sepatu yang kupunya, kubeli dengan diskon hampir setengahnya.
Jam tanganku, kubeli waktu kepepet 8 tahun lalu.
Handphoneku bukan yang termahal yang bisa kubeli.
Mobilku, malah sebenarnya bukan milikku.
Aku berusaha, berpakaian sesederhana mungkin. Berjalan dengan menurunkan dagu. Mengayunkan tangan sedekat mungkin dengan badanku.
Apakah aku sudah tampil sederhana? Seperti Nabi Muhammad, yang mencontohkan hidup sederhana.
Kurasa belum......
Aku masih tidur di kasur empuk, di kamar ber-AC dan rumah berdinding beton. Tidak seperti nabi, yang tidur di dipan keras dan rumah gubuk.
Aku masih lebih sering kenyang daripada lapar.
Aku masih belum bisa memberi milikku yang baru daripada milikku yang lama.
Dan aku masih sering menyombongkan yang kumiliki dan yang kumampu lakukan.
Ya nabi, betapa kami rindu bertemu denganmu.
Pekerjaanku
Aku selalu bingung kalau orang tanya mengenai pekerjaanku.
Mereka selalu pikir aku kerja di rig atau pengeboran minyak.
Akan kucoba jelaskan.
Tapi aku harus jelaskan dari awal.
Sumur minyak atau gas itu, awalnya dibor oleh rig, suatu unit yang besar yang biasa kita lihat di tivi. Unit kerja ini namanya Drilling. Nah, setelah sumur itu jadi dan lengkap, biasanya tidak langsung berproduksi. Disinilah unit kerja Well Service yang bekerja. Sesuai namanya, kesatuan kerja unit ini bertugas untuk membuat sumur berproduksi dengan optimal.
Ada beberapa macam sub unit lagi di sini.
Yang pertama, Electric Line, yang membuat perforasi, lubang yang mengalirkan gas atau minyak dari lapisan kandungan minyak ke dalam sumur. Selain juga bisa untuk logging, yaitu pendataan profil sumur dan kandungan lapisannya.
Ada juga unit Coil Tubing, yg salah satunya bisa mengangkat air dari dalam sumur.
Ada lagi unit Snubbing.
Ada juga unit Testing yang bisa mengukur besaran aliran.
Dan ada juga Slickline, unit tempat aku bekerja. Unit ini termasuk yang paling sederhana dan paling rendah teknologi-nya dibanding unit yang lain.
Tugas utamanya adalah mendukung atau mempersiapkan sumur bagi unit yang lain. Sebagian tugasnya adalah, memasang dan melepas katup pengaman untuk sumur, menutup sumur, mengecek kebersihan dinding sumur dan memasukan alat untuk membaca suhu dan tekanan dalam sumur. Dan semua itu dilakukan dengan memasukan alat-alat tersebut kedalam sumur dengan media berupa kawat baja berukuran 0.125 inchi. Kira-kira 3 milimeter diameternya.
Jenis alat yang bisa di-running itu jumlahnya puluhan. Yang sulit, waktu kita running, kita hanya bisa tau apa yang terjadi dengan membaca berat turun dan naiknya.
Di tempatku sekarang, unit ini berada di atas kapal yang membawa ke sumur yang akan dikerjakan. Ada juga yang di kapal/barge unit lain untuk mendukung unit lain tersebut.
Kerja di bidang ini seperti pemain bola. Aturan dan alat yg dipakai sama di seluruh dunia. Jadi kalau ada klub atau perusahaan lain perlu, kita bisa pindah.
Mudah-mudahan cukup jelas, walau cuma sekilas.
Mereka selalu pikir aku kerja di rig atau pengeboran minyak.
Akan kucoba jelaskan.
Tapi aku harus jelaskan dari awal.
Sumur minyak atau gas itu, awalnya dibor oleh rig, suatu unit yang besar yang biasa kita lihat di tivi. Unit kerja ini namanya Drilling. Nah, setelah sumur itu jadi dan lengkap, biasanya tidak langsung berproduksi. Disinilah unit kerja Well Service yang bekerja. Sesuai namanya, kesatuan kerja unit ini bertugas untuk membuat sumur berproduksi dengan optimal.
Ada beberapa macam sub unit lagi di sini.
Yang pertama, Electric Line, yang membuat perforasi, lubang yang mengalirkan gas atau minyak dari lapisan kandungan minyak ke dalam sumur. Selain juga bisa untuk logging, yaitu pendataan profil sumur dan kandungan lapisannya.
Ada juga unit Coil Tubing, yg salah satunya bisa mengangkat air dari dalam sumur.
Ada lagi unit Snubbing.
Ada juga unit Testing yang bisa mengukur besaran aliran.
Dan ada juga Slickline, unit tempat aku bekerja. Unit ini termasuk yang paling sederhana dan paling rendah teknologi-nya dibanding unit yang lain.
Tugas utamanya adalah mendukung atau mempersiapkan sumur bagi unit yang lain. Sebagian tugasnya adalah, memasang dan melepas katup pengaman untuk sumur, menutup sumur, mengecek kebersihan dinding sumur dan memasukan alat untuk membaca suhu dan tekanan dalam sumur. Dan semua itu dilakukan dengan memasukan alat-alat tersebut kedalam sumur dengan media berupa kawat baja berukuran 0.125 inchi. Kira-kira 3 milimeter diameternya.
Jenis alat yang bisa di-running itu jumlahnya puluhan. Yang sulit, waktu kita running, kita hanya bisa tau apa yang terjadi dengan membaca berat turun dan naiknya.
Di tempatku sekarang, unit ini berada di atas kapal yang membawa ke sumur yang akan dikerjakan. Ada juga yang di kapal/barge unit lain untuk mendukung unit lain tersebut.
Kerja di bidang ini seperti pemain bola. Aturan dan alat yg dipakai sama di seluruh dunia. Jadi kalau ada klub atau perusahaan lain perlu, kita bisa pindah.
Mudah-mudahan cukup jelas, walau cuma sekilas.
Monday, October 5, 2009
Bingung
Aku bingung.
Aku berusaha melihat dari 2 sisi yang berbeda, yang kuyakini bijaksana, malah membuatku terjebak dalam dilema.
Di satu pihak, ada yang pingin acara sederhana untuk acara nikah adikku. Sesuai dengan dana yang tersedia dan prinsip kesederhanaan.
Tapi ibu dan adik no 2, pengen acara yang maksimal, kalau perlu mewah. Walau sudah kutentang, ada aja alasan untuk mencari tambahan dana. Ada aja cerita untuk memojokan pihak yang satunya.
Tapi aku sudah menetapkan, tidak perlu pesta mewah-mewahan. Lebih baik dana yang ada digunakan untuk biaya hidup sang pengantin baru.
Untungnya bapakku sependapat dengan aku.
Aku berusaha melihat dari 2 sisi yang berbeda, yang kuyakini bijaksana, malah membuatku terjebak dalam dilema.
Di satu pihak, ada yang pingin acara sederhana untuk acara nikah adikku. Sesuai dengan dana yang tersedia dan prinsip kesederhanaan.
Tapi ibu dan adik no 2, pengen acara yang maksimal, kalau perlu mewah. Walau sudah kutentang, ada aja alasan untuk mencari tambahan dana. Ada aja cerita untuk memojokan pihak yang satunya.
Tapi aku sudah menetapkan, tidak perlu pesta mewah-mewahan. Lebih baik dana yang ada digunakan untuk biaya hidup sang pengantin baru.
Untungnya bapakku sependapat dengan aku.
Saturday, October 3, 2009
Jilbab
Masih aku ingat dari awal aku masuk SMA, saat jilbab masih belum menjadi tren seperti sekarang.
Pemandangan perempuan berjilbab saat itu sangat langka. Yang jelas, belum ada temenku dan guruku yang memakai jilbab.
Di kelas 2, ada perubahan pemahaman islam di sekolahku. Semenjak agresifnya majelis taklim, hampir semua temen cewek sekelasku memakai jilbab. Diikuti dengan perubahan cara pergaulan mereka kepada laki-laki dan yang non-muslim. Ada sedikit rasa kehilangan saat itu. Karena sebagian dari mereka adalah temen sekelasku sejak SMP.
Masuk kuliah, di universitas islam yogya. Nuansa jilbab makin kental. Walau tidak wajib menggunakan jilbab saat kuliah, banyak temenku yang berjilbab.
Di sinilah pertama kali terpesona dengan wanita berjilbab.
Seorang kakak tingkat yang berjilbab terlihat sangat manis saat itu. Walaupun sebenarnya dia tidak terlalu cantik, tapi ada keteduhan yang ditimbulkan oleh jilbab dan sikapnya.
Di awal kuliah itu pula aku terpesona oleh wanita berjilbab yang menjadi inspirasi dan motivasi saat aku kuliah.
Waktu aku bertemu soul mate-ku, dia bukanlah wanita yang berjilbab. Hingga saat kami akhirnya kami menikah, tak pernah pula kupaksakan dia agar berjilbab.
Alhamdulillah, dengan kesadarannya sendiri, sudah 3 tahun ini dia memutuskan untuk memakai jilbab. Tidak dia perdulikan bahwa banyak bajunya yg akan tidak terpakai karenanya.
Dan aku tambah cinta karenanya.
Pemandangan perempuan berjilbab saat itu sangat langka. Yang jelas, belum ada temenku dan guruku yang memakai jilbab.
Di kelas 2, ada perubahan pemahaman islam di sekolahku. Semenjak agresifnya majelis taklim, hampir semua temen cewek sekelasku memakai jilbab. Diikuti dengan perubahan cara pergaulan mereka kepada laki-laki dan yang non-muslim. Ada sedikit rasa kehilangan saat itu. Karena sebagian dari mereka adalah temen sekelasku sejak SMP.
Masuk kuliah, di universitas islam yogya. Nuansa jilbab makin kental. Walau tidak wajib menggunakan jilbab saat kuliah, banyak temenku yang berjilbab.
Di sinilah pertama kali terpesona dengan wanita berjilbab.
Seorang kakak tingkat yang berjilbab terlihat sangat manis saat itu. Walaupun sebenarnya dia tidak terlalu cantik, tapi ada keteduhan yang ditimbulkan oleh jilbab dan sikapnya.
Di awal kuliah itu pula aku terpesona oleh wanita berjilbab yang menjadi inspirasi dan motivasi saat aku kuliah.
Waktu aku bertemu soul mate-ku, dia bukanlah wanita yang berjilbab. Hingga saat kami akhirnya kami menikah, tak pernah pula kupaksakan dia agar berjilbab.
Alhamdulillah, dengan kesadarannya sendiri, sudah 3 tahun ini dia memutuskan untuk memakai jilbab. Tidak dia perdulikan bahwa banyak bajunya yg akan tidak terpakai karenanya.
Dan aku tambah cinta karenanya.
Friday, October 2, 2009
Lidah tajam
Terjadi lagi deh, ada yang marah gara-gara perkataanku.
Aku akui memang kata-kataku seringkali pedas, bahkan tajam. Seringkali pula aku menyesalinya.
Tapi yang kali ini sebenarnya, karena aku cuma mau mengingatkan. Agar orang itu lebih memperhatikan istrinya. Berhenti mengumbar status seolah istri dan anaknya itu tidak ada.
Aku kasihan sama istrinya. Sedih ada wanita yang diperlakukan seperti itu.
Apa aku salah?
Aku akui memang kata-kataku seringkali pedas, bahkan tajam. Seringkali pula aku menyesalinya.
Tapi yang kali ini sebenarnya, karena aku cuma mau mengingatkan. Agar orang itu lebih memperhatikan istrinya. Berhenti mengumbar status seolah istri dan anaknya itu tidak ada.
Aku kasihan sama istrinya. Sedih ada wanita yang diperlakukan seperti itu.
Apa aku salah?
Subscribe to:
Posts (Atom)